Minggu, 01 Februari 2015

AKU DAN YANG LAIN: Epiphani Wajah - Emanuel Levinas

AKU DAN YANG LAIN
(Refleksi Filosofis Mengenai Hubungan Aku Dengan Yang Lain
Dalam Terang Filsafat Levinas)



I. Pendahuluan
            Telah sekian lama bahkan sampai dengan zaman ini pengaruh filsafat totalitas yang ditandai dengan menjadikan “ego” sebagai titik sentral dalam memaknai suatu kebenaran, dijadikan sebagai titik pijak bagi setiap aspek kehidupan manusia. Dalam kerangka berpikir seperti ini, kemanusiaan kemudian bukan lagi merupakan hal yang diutamakan. Eksistensi manusia yang seharusnya juga ditentukan oleh hubungannya dengan “yang lain dalam keberlainannya” dipersempit dalam totalitas kesadaran aku. Dirikulah yang utama, bukan dia yang lain. “Yang lain” dinomorduakan dan hanya masuk dalam relasi dengan aku sejauh ia mendukung keberadaanku, sejauh ia berfungsi dan berguna dalam relasinya dengan aku. Yang lain ada karena ada aku.  Akulah yang utama, bukan dia. Aku bahkan bisa membunuh yang lain jika aku mau. Aku bahkan bisa menindas yang lain jika dirasa perlu. Aku mengutamakan diriku.
Dibutuhkan sebuah rekonstruksi pola pikir untuk menggantikan cara berpikir lama yang mengutamakan aku. Maka “filsafat alteritas” Emmanuel Levinas[1] hadir sebagai yang memberi jawaban bagi kebutuhan tersebut. Yang lain bukan lagi yang nomor dua, melainkan yang harus ditempatkan pada tempat yang pertama sebagai yang terhormat, yang menuntut tanggung jawab aku untuk melindunginya.     

II. Filsafat Tentang “Yang Lain”
2.1. Siapakah “Yang Lain”?
    Emmanuel Levinas hadir sebagai filsuf yang menggugat otoritas filsafat totalitas yang menurutnya melupakan “dia yang lain dalam keberlainannya”. Dalam filsafat totalitas “dia yang lain” itu diserap dalam identitas diri sendiri, direduksikan ke dalam kesadaran “aku” semata-mata, “The other” dijabarkan menjadi “The same.”  Bertolak dari kritiknya terhadap filsafat totalitas, Levinas kemudian menyusus sebuah etika baru yang mengutamakan “dia yang lain dalam keberlainannya”. Etika kemudian disebutnya sebagai filsafat pertama.[2]
            Siapakah “dia yang lain dalam keberlainannya” itu menurut Levinas? Melalui jalan yang dinamakan Via Negativa, Levinas menyebut “dia yang lain dalam keberlainannya” itu sebagai “yang bukan aku”. Yang lain adalah yang bukan aku. Levinas menyebutnya “Il est que moi, je ne suis pas”, dia yang lain adalah yang bukan aku. Untuk memahami “yang lain” aku tidak dapat memulai dari diriku, karena mamulai dari diriku berarti memulai dari dunia pemahaman dan persepsiku. Jalan yang baik untuk memahami “yang lain” adalah memulai dari dunianya, yaitu dari keberlainannya. Dunianya adalah keberlainannya.[3] Namun yang lain itu adalah suatu realitas ketakberhinggaan, yang tak dapat saya jangkau dengan pikiranku. Yang lain itu tak terbatas, bahkan merupakan fakta terberi, datang dari suatu dunia yang asing yaitu suatu dunia yang belum pernah saya kenal. Ia datang dari atas atau dari seberang sana.[4]

2.2. “Yang Lain” Sebagai Yang Eksterior Sekaligus Heteronom
            Yang lain juga berciri eksterior sekaligus heteronom. Yang lain sebagai yang eksterior tidak saja dapat dimengerti sebagai suatu realitas yang saya jumpai di luar kesadaranku tetapi juga dan terutama merujuk pada realitas yang transenden, yang melampaui dunia kesadaranku, suatu realitas yang tidak masuk dalam konteks pemahamanku. Yang lain sebagai yang heteronom merujuk pada aspek keberlainannya secara radikal dan absolut.[5]
            Yang lain dengan ciri personal, eksterior, heteronom, tapi juga transendental adalah yang lain sebagai yang tak berhingga. Karena ia tak berhingga, ia tak mampu dipahami secara tuntas. Yang lain adalah misteri yang terlampau besar bagi kesadaran aku. Yang lain juga bukan “aku yang lain” (alter ego). Satu-satunya yang harus aku lakukan adalah menerima kehadirannya dan membiarkan dia berbicara tentang dirinya. Aku dan yang lain menunjukkan sebuah hubungan yang asimetris; yang lain ditempatkan sebagai yang lebih besar, universal. Relasiku dengan yang lain adalah relasi asimetris.

2.3. Ephipani Wajah
            Yang lain hadir dalam epiphani wajah. Dalam epiphani wajah terdapat kehadiran dari “Dia yang tak hadir.” Yang tak hadir itu menampakkan kehadirannya. Wajah di sini adalah wajah dalam pengertian metafisis sebagai suatu cara di mana yang lain menapakkan diri. Wajah dalam pengertian metafisis adalah momen kehadiran yang lain dengan segala keberlainannya yang melampaui keanekaan ciri-ciri indrawi. Wajah adalah revelasi dari yang lain sebagai yang transenden. Wajah memanifestasikan yang infinitas, yang tak berhingga.[6] 
            Tampilnya wajah “dia yang lain” itu sendiri sudah berbicara dalam bahasanya sendiri. Bahasa yang bukan semata jajaran bahasa kosong tanpa pendukung arti. Bahasa itu adalah bahasa yang paling langsung, bahasa wajah. Tinggalah sekarang jawaban dari pihak aku.[7] Wajah mewartakan suatu ketelanjangan (la nudite). Suatu ketelanjangan yang menunjukkan bahwa pada wajah terbersit suatu figur kemiskinan. Figur ini menunjukkan suatu ketakberdayaan. Suatu kelemahan yang serentak mengandung di dalam dirinya suatu undangan etis[8]. Yang lain yang tampak sebagai wajah itu, hadir sebagai janda, sebagai yatim piatu dan sebagai orang asing. Karena kehadirannya yang demikian, aku dituntut untuk bertanggung jawab, aku dituntut untuk memberikan tumpangan dan menyelamatkan dia. Kehadirannya mengganggu aku, dan aku harus bertanggung jawab atas kehadirannya. Yang utama di sini adalah tanggung jawab aku terhadap kehadirannya yang mengganggu, dan bukan tanggung jawab dia terhadap kehadiran aku. Karena itu apakah ia bertanggung jawab terhadap aku, itu bukan urusanku. Kehadirannya yang menuntut tanggung jawabku harus diletakkan pada tempat pertama dalam kesadaranku. Kehadiran yang lain sebagai wajah mengundang aku untuk melepaskan egoismeku dan berbalik kepadanya.

2.4. Tanggung Jawab Substitusi
Dalam hal tanggung jawab aku tidak bisa menggantikan yang lain. Beban orang lain bahkan harus siap saya tanggung. Tanggung jawabnya adalah tanggung jawabku. Inilah tanggung jawab substitusi. Obsesi tanggung jawab adalah pergerakan menuju posisi orang lain. Pergerakan seperti ini mengandung konsekuensi “Aku meninggalkan duniaku.” Pergerakan seperti ini menghantar aku pada konsekuensi besar yaitu “kehilangan”, kehilangan keterikatan dengan dunia sendiri. Aku kehilangan semua, termasuk kehilangan diri sendiri. Kehilangan seperti ini berarti kematian. Tanggung jawab substitusi berarti kematian. Kematian di sini selalu dikaitkan dengan orang lain. Kematianku adalah kematian etis.
Filasafat tentang yang lain mengacu pada hubungan “I – The other” dan bukan “I – Thou.” I – The other menunjuk pada semua yang lain, karena itu semua yang lain harus disapa sebagai saudara. Di sana yang nampak adalah sebuah persaudaraan universal, Universal Brotherhood, yang melampaui kultur, gen dan bahasa. Persaudaraan seperti ini berlandaskan pada suatu hal yaitu “kemanusiaan universal.”[9]

2.5. Aku Sebagai Yang Tergugat
            Yang lain yang hadir dalam penampakkan wajah adalah janda, yatim piatu dan orang asing. Inilah ketelanjangan yang lain. Dalam ketelanjangannya yang lain terus mengganggu aku dengan teriakannya; “engkau tidak boleh membunuh aku, engkau harus memberi aku tumpangan”. Ketelanjangannya membawa pesan damai dan bukan kekerasan. Ketelanjangannya adalah penderitaannya. Dengan menggugat saya, dia tidak mengurangi kebebasan saya, dan tetap terbukalah jalan buat kebaikan hati dari pihak saya sendiri yang muncul dari kebebasan dan inisiatif saya sendiri untuk menjawab. Dalam ketergugatan itu aku dituntut untuk membuka hatiku kepadanya. Di sini aku hadir sebagai “aku yang tergugat.” Aku tergugat karena dia yang lain itu hadir dalam ketelanjangannya
Dia yang lain bukan menyerang saya dengan pandangannya karena ia bukan musuh saya. Dia mengajak saya untuk berhubungan damai. Damai itu bukan damai yang diakibatkan kekalahan di satu pihak dan kemenangan di pihak lain. Damai itu bukan suatu negativitas. Damai itu damai saya, damai dia. Saya bukan kalah, dia bukan menang, demikian pula sebaliknya. Damai itu tak terkalahkan oleh senjata, tak dipupuk oleh kemenangan. Lebih dari itu, damai itu timbul dari hubungan dengan “dia yang lain” yang datang dengan kuasa “Dia Yang Sama Sekali Lain” , “Dia Yang Mahatinggi”.[10]

III. Menilik Relevansi Pemikiran Levinas Dalam Kehidupan Zaman Sekarang
            Tidak terlepas dari pemikiran Levinas di atas, dalam refleksi filsafat manusia dikatakan bahwa aku dan yang lain memiliki suatu hubungan timbal balik. Di satu pihak “aku”, subyektivitasku, ditentukan oleh “Yang Lain”. Karena itu eksistensiku saya terima sebagai anugerah dari Yang Lain dan karena itu saya perlu menerimanya dengan rendah hati dan penuh rasa syukur. Di lain pihak “Yang Lain” ditentukan juga oleh “aku”. Hubungan timbal balik seperti ini, menegaskan bahwa “aku” dan “yang lain”, kedua-duanya merupakan subyek-subyek yang harus saling menghormati. Aku dan Yang Lain saling memberikan arti dan saling mengadakan. Korelasi itu bersifat ko-kreatif. Aku dan subyek lain ataupun substansi yang lain, merupakn pusat-pusat yang “berotonomi-di dalam-korelasi” atau sebaliknya pusat-pusat yang “berkorelasi-di dalam-otonomi”. Dirumuskan secara lebih tegas dan radikal, aku dan yang lain “identik-di dalam-distingsi” sekaligus “disting-di dalam-identitas”.[11] Hubungan aku dan yang lain diterima sebagai hubungan timbal-balik. Inilah konsep umum diterima pada masa kini sebagai konsep yang menggambarkan bagaimana relasi aku dengan yang lain. Sayangnya dalam kehidupan praktis pada umumnya, kecenderungan untuk menonjolkan diri “aku” di atas “Yang Lain” lebih kuat sehingga aku cenderung ingin mendominasi kehidupan yang lain. Dalam kerangka konseptual seperti ini, Levinas hadir sebagai seorang filsuf yang coba kembali mengangkat keberadaan “Yang Lain dalam keberlainannya” sebagai subyek yang setara dengan “aku”. Karena itu menurut Levinas relasi aku dengan yang lain haruslah relasi asimetris.
            Levinas tetap tampil sebagai seorang filsuf yang memberikan pokok-pokok pikiran filosofis yang gemanya selalu dapat kita dengar. Akhir-akhir ini dunia boleh dikatakan sedang dilanda krisis kemanusiaan. Orang tidak lagi mementingkan penghormatan terhadap nilai-nilai luhur kemanusiaan. Perang yang terjadi di mana-mana, hal ini menjadi bukti konkret terkoyaknya nilai-nilai luhur kemanusiaan yang semestinya dilindungi, dijunjung tinggi dan dihormati. Penyelesaian masalah dengan kekerasan seolah-olah menjadi legal, sampai-sampai orang tidak mementingkan lagi akal sehat. Situasi dunia seperti ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang nilai relasi aku dengan “dia yang lain dalam keberlainannnya” yang sebenarnya berada dalam hubungan yang sederajad tidak lagi jadi hal utama. Tidaklah salah jika dikatakan bahwa apa yang dulu dicemaskan oleh Levinas mengenai tendensi filsafat totalitas yang mengutamakan “ego” dan mengabaikan “yang lain dalam keberlainannya” kini telah kembali merasuk ke dalam dunia. Makna etika dalam relasi antarmanusia telah hilang.
            Hubungan etis-asimetris antara aku dan yang lain, pertama-tama mesti ditunjukkan dalam hubungan aku dengan yang lain secara konkret saat ini. Artinya, ketika saya berhadapan dengan orang lain, maka sikap hormat dan menghargailah yang pertama-tama harus saya tunjukkan. Ideal perdamaian yang dicita-citakan setiap manusia hanya bisa terwujud jika hubungan aku dengan yang lain saat ini dan di sini sudah lebih dahulu dibangun[12]. Bila aku sudah sanggup menghargai yang lain yang berangkat dari ketergugatan diriku karena penampakan ketelanjangan yang lain, maka tidaklah mustahil hubungan aku dengan yang  lain tersebut akhirnya merupakan hubungan cinta kasih. Juga tidak akan ada anarki dan tirani dalam hubungan seperti itu. 
            Apa yang telah disampaikan oleh Levinas, juga telah membongkar kesadaran aku yang selalu berada di bawah tendensi egosentrisme. Kehadiran orang lain sebagai wajah mengundang aku untuk melepaskan egoismeku dan berbalik kepadanya.. Dengan kata lain aku harus lebih dahulu mengalah. Aku harus selalu siap selalu berada di pihak yang kalah. Akan tetapi kekalahanku bukanlah kekalahan yang diakibatkan oleh karena aku kehilangan kebebasanku melainkan kekalahan aku di sini hanya karena aku mau mengutamakan yang lain.

IV. Penutup
            Filsafat tentang “yang lain” dari Levinas kiranya merupakan mutiara berharga yang sanggup berbicara dalam situasi dunia sekarang ini yang dirasuki oleh individualisme dan egoisme sebagai spirit negatif yang memecah belah umat manusia. Setidak-tidaknya, ide-ide Levinas mampu menegaskan kembali kesadaran kita bahwa etika tetap merupakan hal yang juga harus berada dalam tempat pertama dalam relasi aku dengan orang lain, juga relasi kita sebagai satu kelompok dengan orang-orang lain yang berada dalam kelompok yang lain.
            Banyak orang mungkin belum dapat mengerjakan apa yang telah dianjurkan oleh Levinas melalui ide-ide filosofisnya, karena memang apa yang dicita-citakan oleh Levinas terlampau amat besar. Ia mencita-citakan suatu taraf hidup yang lebih tinggi. Meski demikian, tetap merupakan hal yang pasti bahwa akan tetap ada ruang terbuka bagi kita untuk dapat menghormati orang lain dalam keberlainannya.           


                                                          


DAFTAR PUSTAKA

I. BUKU-BUKU
Aloysius Adeseputra, Dia Yang Lain: Sesama Menurut Emmanuel Levinas, dalam Driyarkara, tahun III, No. 1 dan 2.

Agus Cremers (Penyu.), Masyarakat Bebas Agresivitas, Bunga Rampai Karya Erich Formm Maumere: Penerbit Ledalero, 2004.


Budi Hadirman, Filsafat Modern; dari Machiavelli Sampai Nietzsche Jakarta: Penerbit PT. Garmedia Pustaka Utama, 2007.


Felix Baghi, “Filsafat Alteritas dan Kemungkinan Etis Metafisis yang Heteronom (Berpikir Bersama Levinas)”, dalam Frans Ceunfin & Felix Baghi (ed), Mengabdi Kebenaran. Maumere: Ledalero,2005.

II. ARTIKEL DAN MANUSKRIP
Felix Baghi, “Emmanuel Levinas: Dia Yang Lain Dalam Relasi Etis-Asimetris”, dalam VOX   Seri 36

Felix Baghi, Levinas dan Derrida (kuliah mimbar), Maumere: STFK Ledalero, 2008

Leo Kleden dalam kuliah mimbar filsafat manusia mengetengahkan bahwa hubungan aku dengan yang lain adalah hubungan timbal balik. Aku mengadakan yang lain sekaligus aku diadakan oleh yang lain. Aku diartikan oleh yang lain sekaligus aku diartikan oleh yang lain. Bdk. P. Leo Kleden SVD, “Manusia Berkorelasi dengan yang lain (sosialitas manusia)” (Kuliah Mimbar), Maumere: STFK Ledalero, 2008. 

                                                                                                        
Servasius Salvano Jaman cs, Etika dan Wajah (Seminar Fenomenologi Eksistensial), Maumere:     STFK Ledalero, 2006.






Endtnote:




       [1]Emmanuel Levinas lahir di Konvo-Lithuania dari keluarga Yahudi pada tahun 1906. Sejak kecil ia sudah berkenalan dengan Kitab Suci dan karya-karya sastra dan filsfat. Karya-karya sastra klasik membantunya untuk mencari makna hidup sekaligus pengantar untuk mengenal filsafat. Karena itu pemahaman tentang ide-ide filosofisnya tidak pernah terlepas dari latar belakang ini. Pada masa mudanya ia pernah menyaksikan revolusi 1917 di Ukraina. Pada tahun 1923 ia belajar filsafat di Universitas Strasbourg dan pada tahun 1928/1929 ia belajar di Freiburg. Di sini ia berkenalan dengan literatur-literatur filsafat dan pada usia 18 tahun, ia belajar filsafat di bawah bimbingan empat profesor. Pada tahun 1961 ia menerbitkan tesis doktoralnya dengan judul Totalite et Infini dan berkat tesisnya ini ia diangkat menjadi profesor filsafat di Universitas Poitiers. Kemudian ia ditempatkan di Universitas Paris-Nanterre pada tahun 1967, dan selanjutnya memangku jabatan sebagai guru besar filsafat di Sorbonne pada tahun 1973, hingga pensiun pada tahun 1976. bdk. Servasius Salvano Jaman cs, Etika dan Wajah (Seminar Fenomenologi Eksistensial), Maumere: STFK Ledalero, 2008, p.1.
       [2]Ibid.
       [3]Felix Baghi, “Filsafat Alteritas dan Kemungkinan Etis Metafisis yang Heteronom (Berpikir Bersama Levinas)”, dalam Frans Ceunfin & Felix Baghi (ed), Mengabdi Kebenaran (Maumere: Ledalero, 2005), p. 141.
       [4]Felix Baghi, “Emmanuel Levinas: Dia Yang Lain Dalam Relasi Etis-Asimetris”, dalam VOX Seri 36/2-3, (Maumere: Ledalero,1991), p. 34.
       [5]Servasius Salvano Jaman cs, Op.Cit., p.4. 
       [6]Ibid., p. 5.
       [7]Aloysius Adeseputra, Dia Yang Lain: Sesama Menurut Emmanuel Levinas, dalam Driyarkara, tahun III, No. 1 dan 2, p. 15.
       [8] Budi Hadirman, Filsafat Modern; dari Machiavelli Sampai Nietzsche (Jakarta: Penerbit PT. Garmedia Pustaka Utama, 2007), pp. 272-273.
       [9]Felix Baghi, Levinas dan Derrida (kuliah mimbar), Maumere: STFK Ledalero, 2008.
       [10]Aloysius Adeseputra, Op.Cit., p. 16.
       [11]P. Leo Kleden dalam kuliah mimbar filsafat manusia mengtengahkan bahwa hubungan aku dengan yang lain adalah hubungan timbal balik. Aku mengadakan yang lain sekaligus aku diadakan oleh yang lain. Aku diartikan oleh yang lain sekaligus aku diartikan oleh yang lain. Bdk. P. Leo Kleden SVD, “Manusia Berkorelasi dengan yang lain (sosialitas manusia)” (Kuliah Mimbar), Maumere: STFK Ledalero, 2008. 
       [12] Agus Cremers (Penyu.), Masyarakat Bebas Agresivitas, Bunga Rampai Karya Erich Formm (Maumere: Penerbit Ledalero, 2004), pp. 421-422

Rabu, 28 Januari 2015

Pariwisata dan Touristic Destination Sebagai Perwujudan Diri Manusia Flores Menuju Pemberdayaan Sumber Daya Parawisata




I.    Apa itu Pariwisata dan Touristic Destination?
        Kalau berbicara mengenai pariwisata, maka akan timbul berbagai kesan seperti indah, menarik, menyenangkan dan semua hal lainnya yang dapat menghibur manusia. Nilai estetis dari pariwisata muncul secara alamiah sebagai ciptaan yang menarik, yang memiliki daya tersendiri dari dalam dirinya. Berkaitan erat dengan rasa terhadap nilai estetis ini, pariwisata tidak dapat dilepaspisahkan dari manusia karena hanya manusialah yang mampu menilai, menyelami dan memaknai sesuatu yang indah sebagai yang indah. Selain sebagai suatu keindahan yang terwujud secara alamiah dari ciptaan, pariwisata juga merupakan pengaktualisasian diri manusia yang merupakan perwujudan keindahan dari dalam dirinya. Dalam kaitan dengan ini, nilai estetis atau makna dari sesuatu telah diubah melalui campur tangan manusia. Manusia, melalui kemampuan atau daya seni (sense of esthetic), mengubah sesuatu menjadi lebih indah dan menarik serta mampu memikat banyak orang untuk menikmatinya.[1]
        Sesuai UU No. 9 tahun 1990 tentang Kepariwisataan khususnya pasal 1 ayat 6, disebutkan bahwa Objek dan Daya Tarik Wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata. Kemudian dijabarkan menjadi objek dan Daya Tarik Wisata ciptaan TuhanYang Maha Esa yaitu benda-benda yang ada dan terdapat di alam semesta diantaranya iklim, bentuk tanah, hutan belukar, flora dan fauna, pusat-pusat kesehatan sumber alam. Sedangkan Manajemen Objek dan Daya Tarik Wisata adalah suatu upaya untuk memanfaatkan tempat, potensi wisata, objek wisata dengan cara mengatur, membina dan memelihara objek serta wisatawan dengan organisasi pengelola yang ada melalui perencanaan yang matang sesuai tujuan dan sasaran.[2]
        Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) adalah elemen terpenting dalam pengembangan suatu destinasi atau Daerah Tujuan Wisata. Dikatakan demikian kerena secara primer wisatawan yang bermaksud berkunjung ke daerah tujuan wisata karena termotivasi oleh objek dan daya tarik wisata yang berbeda dari yang biasa dilihat. Kemudian seiring perjalanan waktu motivasi itu akan berkembang dan beragam. Meskipun demikian bukan berarti elemen pariwisata lainnya tidak penting. Perlu diingat bahwa pariwisata adalah suatu sistem yang saling tergantung dan saling memerlukan satu dengan yang lainnya. Objek dan Daya Tarik Wisata yang ideal adalah ODTW yang memenuhi syarat-syarat; some thing to see, some thing to do, and some thing to buy.[3]
        Perwujudan keindahan dari pariwisata kerap kali diwarnai dengan berbagai cita rasa kesenian yang lainnya. Berbagai bentuk kesenian yang dapat kita temukan yaitu ukiran-ukiran, perhiasan atau manik-manik, musik serta berbagai macam tarian. Kesemarakan dari pariwisata juga sering didukung oleh berbagai menu masakan yang disajikan secara istimewa  karena dipadukan dengan khazanah masakan budaya setempat. Berkaitan dengan ini, periwisata dapat menjadi tempat, di mana manusia dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai seorang manusia, sehingga menjadi lebih manusiawi.


II.  Pariwisata dan Manusia-Alam Keindahan Flores
        Di Indonesia, dapat kita temukan banyak tempat pariwisata yang tersebar di hampir semua wilayahnya. Ada berbagai macam bentuk, warna, corak dan gaya yang ditampilkan sesuai dengan keunikan masing-masing pariwisata. Flores, yang dikenal dengan pulau bunga, dapat kita jumpai adanya tempat-tempat pariwisata yang menarik seperti keindahan alam yang masih perawan di daerah pedalaman, atau juga tempat wisata yang sudah dikenal luas seperti Pulau Komodo yang menjadi salah satu keajaiban di dunia dan Danau Kelimutu. Selain itu ada juga wilayah di sekitar pesisir pantai yang secara khusus dijadikan sebagai tempat wisata yang terorganisisr secara baik sebagai tempat rekreasi bagi yang ingin menikmatinya. Unsur positif yang membuktikan pulau Flores merupakan salah satu dari area pariwisata dan destination touristic adalah dengan diadakannya Sail Komodo, yang berpusat di Labuan Bajo, kabupaten Manggarai. Melalui Sail Komodo ini Pulau Flores menunjukkan eksistensi parawisatanya yang tidak kalah menariknya dengan tempat-tempat parawisata Nasional lainnya.
        Objek-objek wisata yang terbentang luas mulai dari ujung Timur Flores sampai dengan bagian Barat Pulau Flores tidak jarang dikemas khusus bagi penyajian untuk turis, dengan maksud agar menjadi lebih menarik. Secara khusus alam Flores tidak hanya menyajikan alam wisata saja bagi para turis, tetapi juga nilai-nilai estetis kebudayaan, nilai-nilai religi, dan unsur-unsur kesenian seperti tari-tarian, ukiran, tenunan, syair-syair tradisional serta sejuta pesona wisata lainnya yang juga tidak kalah menarik minat para pengunjung. Hal ini dapat kita lihat bahwa, dalam beberapa tahun terakhir ini kunjungan dari para turis asing yang di Mancanegara berdatangan untuk menyaksikan keindahan alam yang masih secara alami terjaga dengan baik. Namun, yang memerlukan kehati-hatian lebih besar adalah dalam niatan untuk “mengemas” sajian-sajian yang bermakna religi dan kultural bagi masyarakat pemiliknya sehingga nilai keontetikan dari unsur-unsur religi dan kultural itu idak ternodai dan harus dijaga secara serius nilai-nilai keontentikan ini. Mengingat pengaruh pariwisata terhadap kebudayaan pada masyarakat tuan rumah (masyarakat Flores) dapat dibedakan dua perkara, yaitu:[4]

1. Pengaruh dalam kehidupan ekonomi, apabila kegiatan pariwisata itu dapat meningkatkan kesempatan kerja dan tingkat kemakmuran.
2.  Pengaruh kehadiran wisatawan mancanegara dengan kebiasaan dan busananya yang sebenarnya asing bagi masyarakat tuan rumah. Kemakmuran, apabila tidak dipandu baik-baik dengan suatu sikap budaya yang benar akan dapat mengembangkan nilai budaya yang berubah, misalnya dari adat kekeluargaan dan gotong-royong ke arah sikap “semua bisa dibeli asal ada uang”. Di samping itu, usaha industri pariwisata memunculkan para “makelar” yang mencari untuk sebesar-besarnya atas tetesan keringat orang lain yang bekerja di garis depan.

III.    Dampak Pariwisata dan Touristic  Destination Bagi Masyarakat Flores

3.1.Dampak Positif[5]
        Mencermati berbagai hal yang berkaitan dengan pariwisata, dapat dikatakan bahwa pariwisata merupakan tempat yang istimewa bagi manusia karena pariwisata menjadi simbol keindahan yang dapat memenuhi kebutuhan dasar jasmani dan spiritual manusia. Pariwisata Flores, melalui keindahan alamnya menjadi tempat yang damai dan tenang bagi setiap wisatawan untuk menyelami diri dan menemukan nilai-nilai yang berguna dalam menapaki hidup selanjutnya. Selain itu, pariwisata juga menjadi tempat, dimana para turis dan wisatawan dapat mengekspresikan diri dalam imajinasi dalam karya sehingga dapat menampakkan kemuliaannya sebagai ciptaan yang mulia adanya. Di dalam pariwisata, manusia tidak menjadi obyek seni tetapi menjadi subyek yang merealisasikan dirinya.[6] Manusia juga bukan menjadi sarana penunjang pariwisata tetapi sebagai tujuan dari pariwisata. Wisata ada karena ada manusia yang membutuhkannya untuk memenuhi kebutuhannya. Pariwisata Flores yang kini semakin dikenal di Mancanegara dan Eropa memaksa masyarakat dan budaya lokal Flores untuk “go international”, dan melalui proses internasionalisasi ini masyarakat mau tak mau harus menjadi warga dunia yang multibudaya dan menjadi a tourist society.[7]
        Pariwisata di Flores saat ini tidak secara sadar membawa masyarakat lokal terjepit antara dua kutub kekuatan. Di satu pihak, mereka diwajibkan memelihara tradisi dan adat budayanya, yang merupakan komoditas yang dapat dijual, sementara di sisi lain internasionalisasi melalui jaringan pariwisata berarti membenturkan kebudayaan tersebut dengan dunia modern. Persaingan positif dapat terwujud ketika manusia yang berperan di dalamnya berusaha untuk mengembangkan potensi-potensi di dalam dirinya sencara maksimal sesuai dengan tuntutan para wisatawan serta saling mendukung antara yang satu dengan yang lainnya. Dengan demikian potensi yang ada dalam diri manusia Flores akan semakin dikembangkan demi perwujudan dirinya menjadi semakin manusiawi. Dalam persaingan ini, manusia juga dituntun untuk semakin terbuka terhadap dunia dan perkembangannya yang memampukannya untuk beradaptasi dan membentuk relasi dengan sesama dan ciptaan yang lainnya. Pariwisata secara nyata berpengaruh positif terhadap perekonomian pada sebuah negara atau destinasi seperti:[8]
1.      Pendapatan devisa dan pemicu investasi “foreign exchange earnings”
2.      Pendapatan untuk pemerintah “contributions to government revenues”
3.      Penyediaan dan penciptaan lahan pekerjaan “employment generation”
4.      Pembangunan dan perbaikan infrastruktur baik untuk host maupun tourist “infrastructure development”
5.      Pemicu pembangunan perekonomian lokal “development of local economies”.

3.2.Dampak Negatif[9]
       Pembangunan pariwisata selain memberikan banyak kontribusi bagi masyarakat juga memberikan banyak pengaruh negatif.  Kita ambil contoh Parawisata di Bali saat ini menghadapi berbagai permasalahan mulai dari pembangunan yang tidak terarah, lingkungan, kependudukan, sosial-politik, degradasi budaya karena pengaruh globalisasi hingga kriminalitas. Ternyata dengan pesatnya pembangunan pariwisata yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat melahirkan pula banyak tindak kriminal. Salah satunya adalah premanisme yang dilatar belakangi oleh kekuatan dan kekuasaan seseorang untuk meraih kepentingan individu atau golongan yang sering identik dengan dunia kejahatan.
        Di pihak lain, dampak negatif yang dapat ditimbulkan yaitu adanya persaingan yang tidak sehat antara manusia yang berperan di dalamnya. Persaingan yang tidak sehat ini dapat terwujud dalam berbagai macam tindakan yang dapat merugikan satu sama lain, seperti mengadakan aksi-aksi yang menggangu aktivitas para wisatawan yang sedang berkunjung ke tempat wisata yang menjadi saingannya. Aksi ini dibuat untuk menciptakan konsep yang negatif dari para wisatawan yang sedang berkunjung berkaitan dengan aspek keamanannya. Akibat lanjut yang dapat dikemukakan dari persaingan ini adalah merendahkan harkat dan martabatnya sendiri. Pariwisata tidak lagi menjadi tempat yang potensial untuk pengembangan diri tetapi menjadi tempat persaingan yang menitikberatkan aspek egoisme manusia yang ingin selalu lebih tinggi dari yang lainnya. Namun pariwisata masih sangat disesalkan pula karena pariwisata juga menyisakan beberapa masalah:[10]

1.       Terjadi kebocoran terhadap neraca perdagangan “leakage”
2.       Usaha tanpa manfaat “enclave”
3.      Biaya tersembunyi “hidden cost” khususnya yang berhubungan dengan kerusakan lingkungan dan sumber daya alam, serta degradasi budaya dan sosial
4.      Ketergantungan terhadap sektor pariwisata “depence”. Padahal sektor ini sangat rentan terhadap krisis politik, ekonomi dunia, bencana alam dan sejenisnya
5.       Pemicu peningkatan harga-harga yang tidak dikehendaki oleh masyarakat lokal “inflasi”
6.      Ketidak pastian penghasilan dan pekerjaan bagi sebagian besar pekerja pariwisata “seasonal uncertenty”.


3.3.Peningkatan Pendapatan Inflasi Ekonomi Daerah
        Sejak tahun 1970-an pariwisata Bali mulai berkembang pesat mempengaruhi sendi-sendi perekonomian di berbagai sektor (pendukung pariwisata) termasuk lapangan pekerjaan terbuka bagi setiap orang. Para investor dari dalam maupun luar negeri menanamkan modalnya untuk mengembangkan berbagai usaha yang berkaitan langsung dengan pariwisata maupun usaha yang melengkapi sektor pariwisata. Di samping menjadi mesin penggerak ekonomi, pariwisata juga merupakan wahana yang menarik untuk mengurangi angka pengangguran mengingat berbagai jenis wisata dapat ditempatkan dimana saja.[11] Perekonomian yang berputar sedemikian rupa sudah dirasakan memberikan penghidupan bagi sebagian besar orang. Berbagai tempat usaha pun bermunculan mulai dari rumah makan, tempat rekreasi, megamall sampai tempat hiburan malam. Realitas inilah yang sedang dialami oleh pariwisata di Kepulauan Flores pada umumnya bahwa, terjadi perubahan dan kemajuan diberbagai bidang yang mendukung terjadinya destinasi pada lahan pariwisata dan turistik.

3.4. Dampak Parawisata Bagi Masyarakat Flores
         Pembangunan kepariwisataan pada dasarnya ditujukan untuk beberapa tujuan pokok yang dapat dijelaskan sebagai berikut:[12]

a) Persatuan dan Kesatuan Bangsa: Pariwisata dianggap mampu memberikan perasaaan bangga dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, melalui kegiatan perjalanan wisata yang dilakukan oleh penduduknya maupun oleh warga negara asing ke seluruh penjuru negeri, salah satunya adalah wisata alam di Flores. Dampak yang diharapkan, dengan banyaknya warganegara yang melakukan kunjungan wisata di wilayah-wilayah selain tempat tinggalnya akan menimbulkan rasa persaudaraan dan pengertian terhadap sistem dan filosofi kehidupan masyarakat yang dikunjungi sehingga akan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan nasional.

b) Penghapusan Kemiskinan (Poverty Alleviation): Pembangunan pariwisata diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia, Flores khususnya untuk berusaha dan bekerja. Kunjungan wisatawan ke suatu daerah diharapkan mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Harapannya adalah bahwa pariwisata harusnya mampu memberi andil besar dalam penghapusan kemiskinan di berbagai daerah yang miskin potensi ekonomi lain selain potensi alam dan budaya bagi kepentingan pariwisata.

c) Pembangunan Berkesinambungan (Sustainable Development): Dengan sifat kegiatan pariwisata yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya dan keramah tamahan dan pelayanan, sedikit sekali sumberdaya yang habis digunakan untuk menyokong kegiatan ini. Artinya penggunaan sumber daya yang habis pakai cenderung sangat kecil sehingga jika dilihat dari aspek keberlanjutan pembangunan akan mudah untuk dikelola dalam waktu yang relatif lama.

d) Pelestarian Budaya (Culture Preservation): Pembangunan kepariwisataan diharapkan mampu berkontribusi secara nyata dalam upaya-upaya pelestarian budaya suatu negara atau daerah yang meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan budaya negara atau daerah. UNESCO dan UN-WTO dalam resolusi bersama mereka di tahun 2002 telah menyatakan bahwa kegiatan pariwisata merupakan alat utama pelestarian kebudayaan. Dalam konteks tersebut, sudah selayaknya bagi pulau Flores dan warga masyarakatnya untuk menjadikan pembangunan kepariwisataan sebagai pendorong pelestarian kebudayaan di berbagai daerah.

e) Pemenuhan Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia: Pariwisata pada masa kini telah menjadi kebutuhan dasar kehidupan masyarakat modern. Pada beberapa kelompok masyarakat tertentu kegiatan melakukan perjalanan wisata bahkan telah dikaitkan dengan hak azasi manusia khususnya melalui pemberian waktu libur yang lebih panjang dan skema paid holidays.

f) Peningkatan Ekonomi dan Industri: Pengelolaan kepariwisataan yang baik dan berkelanjutan diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi tumbuhnya ekonomi di suatu destinasi pariwisata. Penggunaan bahan dan produk lokal dalam proses pelayanan di bidang pariwisata akan juga memberikan kesempatan kepada industri lokal untuk berperan dalam penyediaan barang dan jasa.

g) Pengembangan Teknologi: Dengan semakin kompleks dan tingginya tingkat persaingan dalam mendatangkan wisatawan ke suatu destinasi, kebutuhan akan teknologi tinggi khususnya teknologi industri akan mendorong destinasi pariwisata mengembangkan kemampuan penerapan teknologi terkini. Pada daerah-daerah tersebut akan terjadi pengembangan teknologi maju dan tepat guna yang akan mampu memberikan dukungan bagi kegiatan ekonomi lainnya.

        Dengan demikian pembangunan kepariwisataan akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintahan di berbagai daerah. Kepariwisataan akan menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembangunan suatu daerah dan terintegrasi dalam kerangka peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Demikianpun halnya dengan perkembangan keparawisataan di seluruh kepulauan Flores, bahwa melalui parawisata dan touristic destination masyarakat Flores mengalami kemajuan dan perkembangan dalam berbagai sektor kehidupan. Baik itu dalam bidang pendidikan, sains, teknologi, budaya dan tradisi adat istiadat serta berbagai bidang sosial maupun politik lainnya yang menjamin kemajuan alam dan lingkungan serta manusia Flores secara universal.


3.5. Dampak Pariwisata dan Tourutic Destination bagi Peningkatan Ekonomi Masyarakat       Flores
       Tidak dapat dipungkiri bahwa, Pariwisata adalah salah satu mesin penggerak perekonomian dunia yang terbukti mampu memberikan kontribusi terhadap kemakmuran sebuah negara. Pembangunan pariwisata Flores mampu menggairahkan aktivitas bisnis untuk menghasilkan manfaat sosial, budaya, dan ekonomi yang signifikan bagi pemerintah, secara khusus bagi masyarakat Flores sebagai pusat daerah kepariwisataan. Ketika pariwisata direncanakan dengan baik, mestinya akan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat pada sebuah destinasi. Keberhasilan pariwisata terlihat dari penerimaan pemerintah dari sektor pariwisata dapat mendorong sektor lainnya untuk berkembang. Keberhasilan yang paling mudah untuk diamati adalah bertambahnya jumlah kedatangan wisatawan dari periode ke periode. Pertambahan jumlah wisatawan dapat terwujud jika wisatawan yang telah berkunjung puas terhadap destinasi dengan berbagai atribut yang ditawarkan oleh pengelolanya.[13]
       Pada dasarnya daerah Parawisata yang terbentang di daratan kepulauan Flores masih dalam proses pemberdayaan, sehingga dalam berbagai hal fasilitas dan material secara fisik masih berbeda jauh dengan beberapa tempat parawisata di Indonesia seperti di Bali, Jogjakarta dan beberapa tempat Parawisata nasional lainnya. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir Parawisata Flores juga telah mengundang minat para turis dari Mancanegara. Hal ini karena kekayaan alam yang masih alami, corak budayanya yang masih khas dan tradisional, dan tempat-tempat wisatanya yang sangat original seperti Danau Kelimutu, Pulau Komodo dan juga prosesi semana Santa di Larantuka sebagai kegiatan Rohani yang sekarang sebagian turis melihat itu sebagai wisata rohani yang kuno yang masih dijaga ketat kesakralannya. Sehingga kunjungan para turis dari luar maupun dari dalam negeri sendiri sudah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Situasi ini juga turut mendorong system perekonomi masyarakat di daratan kepulauan Flores pada umumnya.
        Dari perspektif ekonomi, dampak positif pariwisata yaitu:[14] (1) mendatangkan devisa bagi negara melalui penukaran mata uang asing di daerah tujuan wisata, (2) pasar potensial bagi produk barang dan jasa masyarakat setempat, (3) meningkatkan pendapatan masyarakat yang kegiatannya terkait langsung atau tidak langsung dengan jasa pariwisata, (4) memperluas penciptaan kesempatan kerja, baik pada sektor-sektor yang terkait langsung seperti perhotelan, restoran, agen  perjalanan, maupun pada sektor-sektor yang tidak terkait langsung seperti industri kerajinan, penyediaan produk-produk pertanian, atraksi budaya, bisnis eceran, jasa-jasa  lain dan sebagainya, (5) sumber pendapatan asli daerah (PAD), dan (6) merangsang kreaktivitas seniman, baik seniman pengrajin industri kecil maupun seniman ‘tabuh’ dan tayang diperuntukkan konsumsi wisatawan. Pada prinsipnya para wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata termotivasi oleh beberapa faktor yakni: Kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, prestise, dan aktualiasasi diri.[15] Selain itu terdapat beberapa faktor penting yang menentukan permintaan pariwisata atau dorongan untuk berwisata berasal dari komponen daerah asal wisatawan antara lain, jumlah penduduk (population size), kemampuan finansial masyarakat (financial means), waktu senggang yang dimiliki (leisure time), sistem transportasi, dan sistem pemasaran pariwisata yang ada.[16]


IV.    Penutup
       Pariwisata adalah salah satu mesin penggerak perekonomian dunia yang terbukti mampu memberikan kontribusi terhadap kemakmuran sebuah negara. Pembangunan pariwisata mampu menggairahkan aktivitas bisnis untuk menghasilkan manfaat sosial. budaya, dan ekonomi yang signifikan bagi suatu negara. Ketika pariwisata direncanakan dengan baik, mestinya akan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat pada sebuah destinasi. Keberhasilan pariwisata terlihat dari penerimaan pemerintah dari sektor pariwisata dapat mendorong sektor lainnya untuk berkembang. Keberhasilan yang paling mudah untuk diamati adalah bertambahnya jumlah kedatangan wisatawan dari periode ke periode. Pertambahan jumlah wisatawan dapat terwujud jika wisatawan yang telah berkunjung puas terhadap destinasi dengan berbagai atribut yang ditawarkan oleh pengelolanya. Wisatawan yang puas akan cenderung menjadi loyal untuk mengulang liburannya dimasa mendatang, dan memungkinkan mereka merekomendasikan ke teman-teman, dan kerabatnya untuk berlibur ke tempat yang sama Fenomena yang terjadi pada trend  pariwisata, khususnya di dunia saat ini adalah pesatnya pertumbuhan wisata kota. Realitas inilah yang mulai dihadapi oleh wisata Flores, yang panorama wisatanya telah mengundang perhatian masyarakat internasional untuk datang dan menikamti keindahan alam, seni dan budaya yang sarat makna dalam masyarakat pulau Flores.



DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Rencana Strategis Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata Nasional 2005 – 2009, Jakarta RI (2005).
Fletcher, J.E. (1989) “Input-Output Analysis and Tourism Impact Studies”, Annals of Tourism Research, 16, 514-529.
Pearce, D. G. 1997. Competitive destination analysis in Southeast Asia, Journal of Travel Research, 35(4), pp.16–20.
Suwantoro, Gamal, 1997, Dasar-dasar Pariwisata, Yogyakarta: PT Andi.
Wahab, Salah, 1989, Pemasaran Pariwisata, Jakarta : PT Pradnya Paramita.
Pitana, I Gde.  2005. Sosiologi Pariwisata, Kajian sosiologis terhadap struktur, sistem, dan dampak-dampak pariwisata. Yogyakarta: Andi Offset.
Spillane, James.1993. Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan prospeknya.Yogyakarta: Kanisius. 
Tourism Vision 2020 – UNWTO: pada http://pandeputusetiawan.wordpress.com. Diakses pada Tanggal 21 November 2013
Smart traveler website. 2007. http://www.smartraveller.gov.au/zw-cgi/view/Advice/Indonesia. Diakses pada tanggal 20 August 2007.




        [1] Budi Kleden, Paul. “Filsafat Estetika” (ms), (Maumere, STFK Ledalero, 2009), p. 6.
        [2] Pitana, I. Gde. Sosiologi Pariwisata, Kajian Sosiologis Terhadap Struktur, Sistem, dan Dampak-dampak Pariwisata. (Yogyakarta: Penerbit Andi Offset, 2005), p. 45.
        [3] Ibid., p.  55.
        [4] Spillane, James. Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan Prospeknya (Yogyakarta: Kanisius, 1993), p. 97.
        [5] Fletcher, J.E. “Input-Output Analysis and Tourism Impact Studies” (ms), (Annals of Tourism Research, 1989)  pp, 514-529.
        [6] Budi Kleden, Paul. Op. cit., p. 35.
        [7]Smart Traveler Website. 2007. http://www.smartraveller.gov.au/zw-cgi/view/Advice/Indonesia. Diakses pada tanggal 20 August 2007.
        [8] Fletcher, J.E., Loc. cit.
        [9] Ibid.
        [10] Ibid.
[11]Suwantoro, Gamal. Dasar-dasar Pariwisata (Yogyakarta: PT Andi, 1997), p. 36.
[12] Smart Traveler Website. 2007., Loc. cit.
[13] Tourism Vision 2020 – UNWTO: pada http://pandeputusetiawan.wordpress.com. Diakses pada Tanggal 21 November 2013.

[14]Ibid.
[15]Pearce, D. G. 1997. “Competitive destination analysis in Southeast Asia”, Journal of Travel Research, No. 35.  pp.16–20
[16]Suwantoro, Gamal. Op. cit.,  p. 129.

São Titus Brandsma. Martir Epoca Moderna nian.

 São Titus Brandsma. Martir Epoca Moderna nian.   São Titus Brandsma. Martir Epoca Moderna nian.   https://drive.google.com/file/d/1M4EVeXu...