Senin, 23 September 2019

GEREJA SEBAGAI BUDAYA TANDING DENGAN POLA REKRUTMEN TENAGA PASTORAL GEREJA

GEREJA SEBAGAI BUDAYA TANDING DENGAN POLA REKRUTMEN TENAGA PASTORAL GEREJA
(Suatu Refleksi Kritis Atas Kiprah Pastoral Gereja Di NTT)




I.       Pendahuluan
Membangun Gereja di NTT merupakan suatu panggilan untuk semua manusia yang mendiami bumi NTT ini. Sebagai satu propinsi dengan mayoritas warganya beragama Kristen-Katolik maka sudah sewajarnya membangun Gereja di NTT menjadi tanggungjawab semua warganya, meskipun tidak dipungkiri bahwa selain kekristenan sebagai mayoritas di dalamnya juga terdapat beberapa pemeluk agama lainnya meskipun dengan jumlah minoritas. Gereja merupakan persekutuan umat beriman Kristiani yang beriman kepada Yesus Kristus yang mewartakan kabar keselamatan kepada semua orang. Sebagai persekutuan, Gereja terbentuk dari berbagai kalangan umat dengan berbagai macam latar belakang sosial, budaya, ekonomi dan politik. Latar belakang itu sedikit banyak mempengaruhi dinamika Gereja yang terbentuk, bertumbuh dan berkembang. Dengan kata lain, Gereja yang mau mendarat, hidup dan berkembang harus mampu menyentuh kebutuhan umat yang dilayaninya, termasuk berkaitan dengan latar belakang politik, sosial, budaya dan ekonomi. Termasuk bagaimana Gereja menghidup dirinya sendiri dalam menghadapi realitas global yang semakin maju dalam segala aspek kehidupannya.[1]
Sebagaimana teologi yang berkembang di Asia berhadapan dengan tiga realitas, yaitu keagamaan, kebudayaan, dan kemiskinan. Demikian pula Gereja di NTT ini dihadapkan kepada tiga realitas ini. Berhadapan dengan tiga realitas itu, dapat menjadi mungkin dan baik jika Gereja bisa menempatkan diri dengan baik dengan ketiga realitas itu, sedapat mungkin Gereja mampu mensejajarkan ketiga aspek ini dalam raksa pastoralnya maupun dalam mewartakan iman akan Yesus Kristus. Dalam mensintesiskan ketiga aspek ini fungsi tenaga pastoral berperan penting untuk bisa mengenal budaya dan tradisi setempat dengan baik sehingga tidak terjadi perbenturan antara realitas sosial, budaya dan agama itu sendiri. Hendaknya tenaga pastoral, mampu menempatkan diri, merasuk dan melebur dengan mereka untuk mengenalkan mereka pada Kristus, “masuk melalui pintu mereka, keluar melalui pintu kita”- sebab iman tumbuh dari kebudayaan setempat bukan dipaksakan dari luar. Sehingga eksistensi Gereja di NTT tidak menjadi asing dan baru bagi warganya. Tenaga pastoral juga memegang andil penting untuk mendaratkan Gereja ke dalam realitas masyarakat NTT. Maka, salah satu prasyarat terpenting adalah Gereja harus mengkontekstualisasikan diri. Gereja harus bertumbuh dan berakar dalam budaya dan realitas sosial masyarakat di NTT ini.

II.    Gereja Sebagai Budaya Tanding?
2.1. Apa itu Budaya Tanding?
Budaya tanding dapat didefinisikan sebagai sebagian dari populasi suatu masyarakat yang secara kuat menganut atau memeluk satu atau lebih nilai-nilai budaya yang berbeda dengan nilai-nilai yang ada dalam kebudayaan yang dominan. Perbedaan kebudayaan seperti ini dapat saja menimbulkan konflik atau pertentangan dalam masyarakat. Dalam banyak kebudayaan masyarakat selalu dihubungkan dengan beragam kebiasaan, isu-isu sosial dan politik serta tradisi dan nilai-nilai budaya yang sudah mengakar dalam suatu konteks. Akan tetapi di lain pihak budaya tanding yang biasanya dilihat sebagai hal yang dapat mengganggu kemapanan suatu kebudayaan justru bisa membantu membarui suatu kebudayaan daerah maupun nasional. Bagaimanapun, kita tidak mungkin mengalami suatu proses sejarah tanpa budaya tanding, baik dalam level rasional, organisasional bahkan dalam wajah politik paling kasar ataupun sekedar pemunculannya dalam tingkat naluriah atau alamiah. Demikian populer istilah itu sehingga Oxford English Dictionary menambahkannya sebagai idiom Inggris sejak akhir kurun itu atau awal 1970-an. Kamus tersebut merumuskan counter-culture, atau counterculture dalam ejaan Anglo-Amerika, sebagai mode of life deliberately deviating from established social practices.[2]

2.2. Kiprah Gereja Berhadapan Dengan Budaya NTT?
Kiprah perjalanan Gereja Katolik di NTT berjalan seiring dengan masuknya para misionaris asing Dominikan pada paruh abad XVI, lebih intensif lagi pada masa pasca Perang Dunia I oleh para misionaris dari Serikat Sabda Allah (SVD).[3] Agama Katolik (Gereja) mendapat tempatnya dalam ruang lingkup masyarakat NTT karena dilihat sebagai suatu kepercayaan yang mengarahkan manusia dalam relasi keakrabannya dengan yang transenden. Sebelum masuknya Gereja di NTT, manusia NTT sudah mengenal kepercayaan akan sesuatu yang lain, yang berada di luar kemampuan rasionalnya. Karena adanya kesamaan ini maka, agama Katolik dengan cepat berkembang dan diterima oleh masyarakat NTT. Realitas ini nampak dalam perkembangan religiositas tradisional di wilayah ini, meskipun dalam perjalanan sejarahnya agama Kristen Protestan juga mendapatkan tempat yang istimewa dalam masyarakat di wilayah ini, di samping agama-agama lainnya.
Sepak terjang gereja di NTT juga tidak jarang sering dipertentangkan dengan kebudayaan yang telah melekat kuat dalam diri masyarakat pada umumnya. Berhadapan dengan budaya dan tradisi setempat, Gereja perlu hati-hati agar tidak terbawa dalam arus sinkretisme atau juga sebaliknya, pengaburan tradisi kebudayaan masyarakat yang sudah diyakini sejak zaman nenek moyang masyarakat NTT. Bahwa, dalam tradisi dan budaya setempat masyarakat sudah mengenal dan mengakui adanya Tuhan dalam konteks budaya dan adat setempat, sehingga kecemasan bahwa kehadiran Gereja menjadi pengabur iman dan kepercayaan umat yang telah tertata dengan mapan.[4]  Berhubungan dengan realitas ini maka, Konsili Vatikan II  membawa Gereja merubah pandangannya. Di luar gereja juga bisa ada keselamatan.
Karena itu Gereja meninggalkan sikapnya yang memerangi budaya dan agama  NTT, dan mulai terbuka mengakui bahwa di dalam budaya dan agama NTT juga bisa ada kebenaran, ada yang baik. Segala kebaikan dalam hati dan budi orang serta dalam ibadat dan kebudayaan bangsa-bangsa tidak dihilangkan tetapi diutuhkan. (Bdk. NA No. 2). Maka Gereja juga menunjukkan sikap bersahabat kepada budaya dan agama orang  NTT ketika menyatakan bahwa dengan segala usaha pewartaan, Gereja (juga) beriktiar agar hal-hal yang baik yang ada tertabur dalam hati dan benak manusia atau dalam upacara serta budaya khas NTT, bukan saja tidak binasa melainkan disegarkan, ditingkatkan, dan disempurnakan demi kemuliaan Allah, demi penghinaan setan dan kebahagiaan manusia. (Bdk. LG No. 17). Karena itu Gereja di sini mulai memperlihatkan sikap  rendah hati untuk menghormati budaya dan agama orang NTT, dan tidak tergoda untuk mengambil kewenangan untuk mengadili. Maka, dengan jeli Enio Mantovani, SVD, seorang misiolog berpendapat bahwa keanekaragaman nilai pada berbagai budaya dan agama adalah cara Allah berbicara kepada orang-orang di sini melalui segala yang ada di sekitar mereka, seluruh lingkungan budaya.[5]
Pola pemikiran senadapun dinyatakan dalam sidang para Uskup dalam pertemuan FABC yang menggagaskan cita-cita tentang membangun Gereja berwajah Asia. Penekanan yang sama juga untuk kiprah Gereja di NTT juga diharapkan menyapa manusia NTT dalam seluruh konteks kehidupannya. Peran Gereja dan pola Pastoral kita harus bisa menangkap seluruh situasi kehidupan manusia NTT itu sendiri sehingga bisa terbuka kemungkinan terjadi proses pembaharuan, pemurnian iman dan agama manusia NTT, proses menjadi Gereja NTT. Teologi yang dibangun hendaknya menjadi refleksi atas kehidupan manusia NTT, liturgi menjadi perayaan kehidupan manusia NTT, yang menginspirasi perilaku di tengah dunia. Dan Gereja NTT menjadi saksi tentang yang benar dan suci.


2.3. Gereja Sebagai Budaya Tanding Suatu Kontekstualisasi?
Model budaya tandingan adalah salah satu model yang digunakan dalam teologi kontekstual yang berusaha terlibat dan relevan dengan konteks yang pada satu sisi tetap setia pada Injil, dan di lain sisi juga berani untuk menantang dan mengubah konteks. Model ini berani memberikan sebuah tawaran yakni kekristenan harus menjadi penolakan radikal dan menawarkan budaya tandingan terhadap budaya yang berkembang dalam masyarakat. Model kontekstual menyadari bahwa manusia dan ekspresi teologis hanya dapat hidup dalam situasi yang dikondisikan secara historis dan kultural, sambil juga kritis dan curiga terhadap konteks yang terjadi dalam masyarakat.[6] Tanpa bergeser keluar dari kenyataan di atas, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa model budaya tandingan bukanlah model anti-budaya, tetapi ia melihat bahwa Injil harus dikomunikasikan dalam budaya dan tidak melihat budaya sebagai sesuatu yang jahat. Dalam hal ini Injil dan nilai teologis berkompromi dengan situasi kultural dan tidak menghilangkan nilai budaya yang sudah menyatu dengan masyarakat.[7]
Sebagai sebuah model yang menawarkan kemungkinan asimilasi antara nilai injili dan teologis dengan budaya setempat, muncul juga beberapa tendensi yang menjadi keresahan apabila model ini dimengerti secara keliru. Kecenderungan dari tidak setianya terhadap nilai asali model ini adalah, adanya bahaya untuk menjadi anti-budaya, apabila para praktisi model ini terlalu menganggap budaya itu jahat, kafir, sehingga dapat terjadi pemusnahan budaya seperti yang pernah terjadi pada awal masuknya penyebaran Injil di wilayah NTT pada awal masuknya kekristenan di Indonesia pada umumnya. Realitas ini terjadi karena kecenderungan adanya rasa superioritas Gereja yang terlalu memusatkan perhatian untuk membangun indentitasnya, tanpa terlibat ke tengah dunia, akan budaya yang menjadi corak hidup manusia NTT sebelumnya. Sehingga pada awal masuknya kekristenan di NTT khususnya, para misionaris menganggap budaya dan tradisi hidup masyarakat NTT sebagai kafir sehingga mereka harus ditobatkan dari kekafiran mereka. Padahal nilai-nilai budaya dalam masyarakat NTT menampilkan suatu paham religiusitas yang kuat dan sangat berakar yang telah diwariskan secara turun-temurun.[8]
Gereja menjadi model budaya tandingan adalah sebuah model perjumpaan atau keterlibatan, karena model ini hendak menegaskan perutusan Gereja yang sungguh-sungguh masuk menjumpai dan melibatkan konteks dalam pewartaannya namun, tetap dengan sikap menaruh sikap hormat atas nilai-nilai luhur dari kebudayaan yang sudah dihidupi oleh masyarakat dalam konteksnya. Model ini juga sungguh-sungguh mengindahkan semangat profetis yang menubuatkan kebenaran dalam konteks. Gereja diwartakan kepada manusia yang hidup dalam suatu budaya tertentu. Oleh karena itu, dalam pewartaannya Gereja haruslah mengindahkan dengan seksama konteks kebudayaan dari masyarakat yang menjadi tujuan pewartaannya. Dalam arti ini apabila para agen pastoral maupun gereja itu sendiri harus mengaitkan antara pewartaan mereka dengan konteks budaya tempat di mana mereka mewartakan, maka mereka mesti serentak menempatkan pewartaannya dalam bahasa pendengar dan sesuai dengan konteks budaya masyarakat NTT itu sendiri.[9]
Kalau kita menyimak konteks hidup beriman zaman ini, tak dapat disangkal lagi bahwa penghayatan iman umat kristiani sekarang berangsur-angsur menurun, jikalau dibandingakan dengan pola hidup beriman umat yang belum tersentuh oleh kemajuan teknologi atau perkembangan zaman. Dalam banyak situasi, komunitas Kristen terancam eksistensinya karena pengaruh “dunia modern” antara lain lewat modern  technology (yang membawa pergeseran nilai-nilai), sistem pendidikan (terarah pada prestasi pribadi), pasar bebas (yang mengalahkan yang lemah) dan digitalisasi (segala-galanya diatur dari belakang komputer, tanpa melihat wajah orang) telah masuk ke dalam kehidupan umat dewasa ini. Kenyataan ini, tentu merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi umat kristiani, yang juga adalah komunitas zaman ini. Tantangannya yang mungkin cukup berat dihadapi yakni apakah kehadiran gereja di NTT secara khususnya bisa menjadi tanda dan sakramen kehadiran Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia saat ini? Tanda-tanda itu adalah hidup dalam persekutuan seperti para rasul atau jemaat perdana, berkumpul bersama, berdoa bersama dan saling mengasihi satu sama lain (bdk. Kis 2: 41-47). Menghadapi realitas modernitas ini maka, tantangan bagi Gereja yang sekaligus menjadi budaya tandingnya adalah dengan penambahan dan formasio yang lebih serius dalam mendidik para agen pastoralnya untuk secara lebih jeli dan tanggap terhadap realitas gereja yang ada zaman ini.                                                                         
Menyimak kenyataan yang ada sekarang, panggilan bagi kaum beriman untuk membentuk sebuah komunitas Gereja yang benar-benar kristiani tidak selalu mudah dan juga tidak selalu berjalan lancar. Dalam hal ini, selalu saja ada dinamika jatuh-bangunnya, untuk membangun Gereja yang benar-benar kristiani dan memiliki kualitas religius dan moral yang kokoh menjadi tantangan bagi para agen pastoral di NTT ini. Kesadaran Gereja ini, kiranya juga menjadi kesadaran seluruh umat kristiani, dan tidak hanya menjadi kesadaran Hierarki Gereja semata. Gereja di NTT harus menyadari bahwa panggilan untuk mewujudkan kerajaan Allah menjadi tantangan tersendiri pada zaman sekarang ini. Dari sebab itu, kesaksian hidup –sebagai hasil dari apropriasi (penginternalisasian) nilai-nilai Injili amat diperlukan untuk mengendalikan arus-arus besar zaman ini, terutama arus globalisasi, modernisasi, politik, ekonomi dan budaya yang begitu merasuki setiap lini kehidupan manusia dewasa ini. Kesaksian hidup Injili ini peratama-tama harus dimiliki oleh seorang agen pastoral, baik sebagai klerikal maupun sebagai awam yang dipersiapkan secara khusus dalam pewartaannya. Realitas kesaksian hidup ini yang menjadi tantangan dan sekaligus harus menjadi komitmen dasar bagi hierarkis Gereja NTT saat ini untuk menyingkapi tuntutan Gereja sekaligus tuntutan zaman yang semakin sekuler ini.
Spiritualitas Injili harus sedapat mungkin dihayati dan dikonkritisasikan secara nyata dalam praktek hidup para agen pastoral maupun oleh umat itu sendiri. Penghayatan hidup seperti di atas dalam arti bahwa penghayatan semangat Injil mesti menjiwai umat Kristen sekarang. Dan hanya dengan cara penghayatan demikian, umat Kristen telah memulai apa yang disebut dengan membangun budaya tandingan yakni mengokohkan iman akan Kristus di tengah kemajuan zaman dengan berkumpul bersama, berdoa bersama, atau mengikuti kegiatan-kegiatan lingkungan lainya atau bahkan mengadakan suatu kegiatan karitatif (karya sosial) dalam hidup bersama. Citra diri seperti ini, perlu selalu dijaga dan ditingkatkan sehingga akhirnya menjadi sebuah way of life bagi Gereja di NTT, bahkan menjadi budaya baru dalam mengokohkan iman Kristen di tengah-tengah arus perubahan dunia yang selalu menawarkan nilai-nilai baru, yang kadang-kadang berseberangan dengan nilai-nilai Kristiani.        


III. Refleksi Kristis Tentang Gereja Sebagai Budaya Tanding Dengan Pola Rekrutmen Tenaga Pastoral Gereja Di NTT
Gereja adalah sebuah misteri, rencana, karunia serta tidakan Allah yang mengambil bentuk historis dan konkrit  di dalam realitas sosio-budaya dan sosio-politik manusia.[10] Pergeseran nilai-nilai sosio-budaya dan politik menuju demokratisasi dan modernisasi telah merubah pandangan manusia menuju suatu dunia yang lebih kompleks dan terbuka. Pemahaman seperti ini turut mempengaruhi penghayatan iman agama seseorang. Iman akan Allah dianggap sebagai sesuatu yang dinamis, seiring dengan perkembangan zaman. Tantangan dan pemahaman iman seperti inilah yang menjadi keprihatinan Gereja secara umum, Gereja di NTT khususnya. Bahwa, manusia NTT dewasa ini telah mengalami pola perubahan yang berarti, dimana mental dan pemahaman manusia tidak lagi terkungkung dalam asas kekeluargaan yang mengikat, tetapi berangsur-angsur mengalami pengikisan menuju pola individualisasi, kenyataan yang sama pula dalam bentuk penghayatan iman kekristenannya. Iman dianggap sebagai suatu yang bersifat private dan personal, bukan lagi menyangkut kolektifitas atau kolegialitas sebagaimana iman Jemaat Perdana. Realitas inilah yang menjadi persoalan Gereja di NTT yang harus ditemukan solusi alternatifnya, bagaimana Gereja dihidupkan kembali sesuai dengan konteks zaman sekarang ini.
Kenyataan bahwa, Gereja di NTT masih pada tataran Hierarkis dimana kiprah dan sepak terjang Gereja masih dikomando oleh Takhta Suci Vatikan.[11] Meskipun dalam perjalanannya adanya tendensi pembaruan dalam diri Gereja melalui Konsili Vatikan II tetapi perubahan Gereja belum signifikan dan menampilkan wajah yang baru dalam pewartaannya. Dapat dikatakan bahwa salah satu pengikisan dan perubahan dalam penghayatan iman umat juga disebabkan karena Gereja yang terlalu menjalankan peran hirarkisnya, dimana Gereja menjadi milik kaum klerikal (kaum tertahbis) sementara umat hanya menjadi objek dari pewartaan Gereja itu. Pola pewartaan iman Gereja seperti ini sudah tidak bisa diteruskan lagi dalam konteks dunia zaman sekarang ini secara khusus dalam penghayatan iman umat di NTT. Karena jika Gereja menuntut untuk mempertahankan ciri hirarkis yang bersifat top-down atau vertikal ini maka tidak dapat dipungkiri pula umat yang datang ke Gereja pun dari waktu ke waktu akan mengalami penurunan jumlah.[12] Tuntutan Gereja dewasa ini ialah bahwa, Gereja harus mampu membangun sebuah “dialog-komunikatif-partisipatif yang horizontal”, bahwa harus adanya keterlibatan dan relasi yang akrab dalam penghayatan iman antara kaum awam dan kaum tertahbis.
Sebelum Gereja mewartakan Injil di Bumi NTT ini hampir di semua tempat, masyarakat sudah erat dan kuat mengakarkan tatanan hidupnya pada budaya dan tradisi setempat. Kultur dan budaya mendapat tempat penting dalam setiap masyarakat yang sekalipun sedikit demi sedikit bergeser nilainya karena kemajuan dan perkembangan zaman, namun hal ini juga berubah menjadi gaya hidup. Kuatnya akar pada budaya ini menyebabkan selalu ada sikap curiga terhadap segala sesuatu yang memiliki unsur kebaruan. Kecurigaan yang sama pula terhadap kehadiran Gereja di NTT ini yang sering menganggap Gereja lebih superior terhadap nilai-nilai dan corak kebudayaan dalam masyarakat, kecenderungan seperti ini harus disikapi oleh Gereja dalam usaha pewartaan sehingga tidak berbenturan antara nilai luhur penginjilan dan nilai budaya. Maka sangat diharapkan agar Teologi dan nilai Injil sedapat mungkin dapat mengupayakan sebuah keselarasan dengan unsur-unsur positif yang terdapat dalam berbagai kebudayaan namun juga pada saat yang sama bersikap kritis terhadap nilai-nilai destruktif dalam kebudayaan-kebudayaan tersebut.
Panggilan profetis untuk menjadi Garam dan Terang orang Kristen untuk menjadi lensa dalam hidup sebagaimana yang sudah ditunjukkan oleh Yesus dalam warta Injil dan kemudian diteruskan oleh tradisi kelihatannya adalah sebuah ideal yang cukup sulit untuk direalisasikan. Banyak orang bahkan orang-orang Kristen sendiri sudah sedemikian terpengaruh oleh budaya sekular. Dibutuhkan di sini sebuah komitmen dan kesetiaan terhadap komitmen panggilan rahmat Allah tersebut. Adalah tugas dan fungsi para gembala dan agen pastoral lainnya untuk bekerja keras terus menyadarkan umat dalam hal ini. Bertolak dari realitas ini maka, agen pastoral memegang peran penting dalam pewartaan Gereja di tengah-tengah masyarakat NTT. Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa, meskipun hampir setiap tahunnya Gereja menghasilkan sejumlah imam tertahbis tetapi kendala yang sama bahwa masih terdapat kekurangan dalam pelayanan-pelayanan dari agen pastoral, khususnya dari kaum klerikal. Kekurangan agen pastoral menjadi kendala tersendiri bagi Gereja dalam pewartaan dan pelayanannya terhadap kebutuhan iman umat. Menjadi satu pertanyaan yang menantang, apakah NTT kekurangan agen pastoral atau tidak adanya agen pastoral sama sekali? Sedangkan hampir setiap tahunnya selalu ada sejumlah agen pastoral yang ditahbiskan dalam beberapa keuskupan yang tersebar di seluruh NTT.
Selain kendala pada kekurangan agen pastoral, Gereja juga dihadapkan pada kemunculan dari denominasi-denominasi kekristenan yang bermunculan dalam beberapa tahun terakhir ini, yang kiranya cukup mengganggu kemapanan Gereja di NTT ini. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sikka, mencemaskan tentang  adanya beberapa aliran sesat yang menjamur dan berkembang di daerah ini dan dianggap menyesatkan serta menganggu kerukunan antarumat beragama di daerah di NTT. Ada beberapa denominasi aliran gereja yang diduga menyesatkan karena belum diakui keberadaannya di Negara ini.[13] Denominasi atau aliran yang dianggap menyesatkan umat beriman di NTT khususnya di  Maumere, Kabupaten Sikka itu sangat mengganggu kerukunan antarumat beragama di daerah itu. Dari persoalan ini, muncul beragam pertanyaan yang tentu sangat mengusik kenyamanan para agen pastoral, bahwa meskipun umat NTT adalah mayoritas beragama Kristen (Katolik dan Protestan) dengan jumlah agen pastoralnya yang tidak sedikit jumlahnya, tetapi dalam beberapa kurung tahun terakhir ini sering muncul keresahan umat akan kehadiran dari denominasi-denominasi yang kehadirannya mengganggu bahkan meresahkan masyarakat NTT.
Menyimak problematika di atas dapat dikatakan bahwa, tidaklah cukup menghasilkan puluhan agen pastoral tiap tahunnya tanpa karya-karya pelayanan yang nyata dalam menanggapi dan menyikapi problematika iman umat yang ada, tetapi Gereja harus mampu menghasilkan kader-kader dan agen pastoral yang berkwalitas dalam segala aspek, dan bersedia untuk menjadi Terang dan Garam dunia, aspek ini harus menjadi budaya tanding Gereja NTT saat ini dalam menentukan dan menghasilkan agen-agen pastoralnya. Bersedia untuk menjadi gereja-gereja yang hidup dan mau berkorban dalam melayani dan merayakan sakramen bersama umat. Di sisi lain, Gereja harus melawan setiap bentuk kebijakkan yang tidak adil seperti kebijakan tata ruang dan tata kelola sumber daya alam serta ekonomi dan politik yang cenderung korup dan tidak adil.   “Gereja harus aktif mempromosikan nilai moral kristiani, mengkampanyekan budaya hidup anti korupsi. Namun Gereja juga harus mempengaruhi kebijakan publik yang lebih berpihak pada keadilan sosial dan kesejahteraan bersama. Gereja harus keluar dari kemapanannya dan terlibat dalam realitas umatnya, sehingga Gereja dapat memberdayakan dan membangun umatnya dalam tatanan hidup yang sejahtera, adil dan makmur tanpa harus menanggalkan jubahnya dan dogma-dogma yang melekat dalam tubuh Gereja itu sendiri.
Wajah Gereja NTT dewasa ini dihadapkan pada tantangan yang turut mempengaruhi kiprah Gereja ialah bahwa para agen pastoral khususnya para Klerus yang dipanggil untuk melayani umat Tuhan sering membingungkan umat. Hal ini dikarenakan sebagian agen pastoral bekerja antara demi kepentingan personal atau bekerja untuk karya keselamatan Allah. Peran ganda inilah yang menjadi tantangan Gereja NTT zaman sekarang ini, bahwa banyak agen pastoral yang dihasilkan setiap tahunnya selalu tidak mencukupi kebutuhan dan pelayanan Gereja. Kenyataan ini diakibatkan karena sebagian kaum klerus selalu mencari titik aman, kenyamanan yang mereka miliki membuat mereka lupa akan karya perutusan dan panggilan mereka dalam melayani Gereja Kristus dan umat Allah. Kenyataan ini menjadi keluhan umat Gereja di tempat-tempat pedalaman, di mana mereka jarang mendapat pelayanan sakramen, dari para agen pastoral (kaum tertahbis). Atau dipihak lain, para agen pastoral ini hanya mau melayani umat yang berada atau yang mapan dalam hal ekonomi (bisa beri stipendium yang besar jumlahnya), sedangkan umat yang miskin dan sederhana kurang mendapat perhatian dan pelayanan-pelayanan sakramen.[14] Pengalaman ini sering kita jumpai dalam realitas kehidupan umat Gereja.
Gereja perlu cermat dan tanggap terhadap kenyataan ini, bahwa tidak cukup hanya menghasilkan kaum tertahbis setiap tahunnya dengan jumlah yang banyak, tetapi sekiranya Gereja mampu menghasilkan agen-agen pastoral yang profesional, yang siap untuk melayani, berkorban dan hidup terlibat dalam realitas umat Allah di bumi NTT ini. Seorang agen pastoral dipanggil untuk mengabdi dan terlibat dalam realitas hidup umat Allah, ia mengambil bagian dan berpihak kepada kaum kecil, kaum tertindas, mereka yang terpinggirkan dan tidak diperhatikan dalam masyarakat serta mereka yang diperlakukan secara diskriminatif oleh sesamanya. Sebagaimana tugas perutusan Yesus adalah suatu proses keberpihakan maka, kita juga (agen pastoral) dipanggil dan diutus untuk menjadi pewarta yang handal dan dapat diandalkan oleh Gereja. Dengan demikian, jumlah yang banyak tidak menentukan kwalitas serta bobot dari keberpihakan dan kebersediaan untuk melayani dan terlibat, tetapi ketulusan dan keiklasan untuk melayanilah yang menjadi tuntutan dan harapan dari Gereja dan umat Allah di NTT ini. Jadi, tugas Gereja bukanlah menghasilkan agen pastoral secara kwantitas, tetapi yang terpenting adalah menghasilkan agen pastoral yang berkwalitas dalam pengabdian terjadap Gereja.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Gereja dewasa ini adalah, modernisasi dan globalisasi yang merebak ke permukaan, dan sangat memberi efek bagi umat Gereja di NTT ini. Realitas kemajuan dalam bidang teknologi, sains dan globalisasi turut mengubah pola pikir dan pemahaman penghayatan iman umat, sehingga Gereja NTT harus mampu merefleksi dirinya dalam pelayanan dan karya-karya pastoralnya. Karena kecenderungan umat dewasa ini untuk melihat iman (agama) sebagai persoalan private, maka soal beriman atau tidak itu menjadi urusan setiap orang, kendala seperti ini yang menjadi tantangan pastoral Gereja. Tidak heran pula bahwa dengan perkembangan ini pula sebagian kecil agen pastoral pun turut terlebur dalam pemikiran yang hampir sama, bahwa persoalan iman adalah suatu yang bersifat private dan Gereja tidak mesti memaksa umat untuk beriman karena umat bebas untuk menentukan sendiri imannya. Ada pula yang karena realitas modernisasi ikut terlebur dan sibuk dengan persoalan dunia, dengan lupa akan identitasnya sebagai agen pastoral yang harus menjadi Terang dan Garam bagi Dunia sehingga pola pastoral menjadi mandeg dan tidak terjalankan. Kenyataan ini yang harus secara jeli ditanggapi oleh Gereja, di mana Gereja di NTT dipanggil untuk mampu menghasilkan para agen pastoralnya yang bersedia dengan sungguh-sungguh melayani dan terlibat dalam proses pembentukan iman umat, bersedia untuk terlibat dalam karya pastoral dan pelayanannya meskipun modernisasi dan globalisasi memberi tuntutan yang sangat menantang. Gereja harus mampu terlibat dalam konteks dengan agen-agen pastoralnya yang berkwalitas dalam melayani serta memberi diri secara total dalam karya pastoral maupun pelayanan Gereja demi terwujudnya Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia yang semakin sekular dan global dalam segala bidang kehidupannya. Maka, yang harus menjadi budaya tanding Gereja NTT saat ini adalah bagaimana menghasilkan agen pastoral yang berkwalitas dalam iman, pelayanan pastoral dan bersedia untuk terlibat dan siap untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia, khususnya di NTT.


IV. Penutup
Sudah saatnya Gereja Katolik NTT membaharui komitmennya untuk sungguh-sungguh mewartakan harapan akan keadilan di tengah dunia yang ditandai oleh berbagai isu-isu sosial-pastoral yang dialami oleh Gereja, baik itu terhadap para agen pastoral maupun Gereja sebagai umat Allah itu sendiri. Tentu saja hal ini perlu didorong oleh sikap sadar akan apa yang menjadi tujuan penciptaan dan maksud inkarnasi Allah dalam diri Yesus Kristus. Gereja Katolik Indonesia, khususnya di NTT mesti membiarkan diri dan terbuka terhadap bimbingan Roh Kudus agar dapat membaharui komitmennya agar terbentuk gereja yang sungguh-sungguh terlibat dan berpihak dalam pelayanan-pelayanan dan tugas perutusan-pastoral Gereja itu sendiri. Prinsip ini dapat terealisasi jika, Gereja memiliki para agen pastoral yang benar-benar merasa terpanggil untuk mengabdi dan melayani Allah dalam diri Gereja Allah itu sendiri. Maka, kwalitas dan bobot yang proporsional dari seorang agen pastoral sangat dibutuhkan. Kecenderungan Gereja di NTT menghasilkan agen pastoral dari segi kwantitasnya saja, sedangkan kwalitas dan bobot masih jauh dari cita-cita Gereja itu sendiri. Oleh karena itu, sikap yang perlu ditumbuhkan untuk mencapai usaha ini adalah pertobatan, metanoia, transformatif, termasuk di dalam tubuh Gereja sendiri.
Panggilan profetis setiap orang Kristen untuk menjadi lensa dalam hidup sebagaimana yang sudah ditunjukkan oleh Yesus dalam warta Injil dan kemudian diteruskan oleh tradisi kelihatannya adalah sebuah ideal yang cukup sulit untuk direalisasikan. Banyak orang bahkan orang-orang Kristen sendiri sudah sedemikian terpengaruh oleh budaya sekular. Dibutuhkan di sini sebuah komitmen dan kesetiaan terhadap komitmen tersebut. Adalah tugas dan fungsi para gembala dan agen pastoral lainnya untuk bekerja keras terus menyadarkan umat dalam hal ini. Cara berteologi kontekstual dengan model ini membutuhkan sebuah komitmen yang kuat dari Gereja, agen pastoral maupun dari umat Allah itu sendiri. Maka, budaya tanding di sini adalah bukan soal menghasilkan jumlah agen pastoral yang banyak, tetapi bagaimana Gereja secara institusional mampu menghasilkan agen-agen pastoral yang benar-benar merasa terpanggil untuk melayani, berpihak dan terlibat dalam realitas Gereja itu sendiri.













Daftar Pustaka


Kamus Oxford English Dictionary, 2001.

Franz Magniz-Suseno, Beriman Dalam Masyarakat: Butir-butir Teologi Kontekstual. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1992.

John Mansford Prior, Dari Pemenggalan Kepala Menuju Kembalinya Si Anak Hilang: Misi Dalam Perjumpaan Dengan Agama-agama Asli. Dalam Majalah Sawi, Edisi 10 Oktober 1995. Jakarta: Komisi Karya Misioner KWI dan Missio, 1995.

…………, Antara Monarki dan Demokrasi: Melacak Jejak Laku Hirarki Gereja 40 Tahun Terakhir. Dalam buku. Paul Budi Kleden, cs (Ed.), Allah Menggugat Allah Menyembuhkan. Maumere: STFK Ledalero, 2012.

Emanuel Gerrit Singgih, Berteologi Dalam Konteks:Pemikiran-pemikiran Mengenai Kontekstualisasi Teologi di Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2000.

Mantovani, Enio, SVD, Memahami Dialog. Dalam Teologi Misi di kawasan AsiaPasifik, Nusa Indah.


Kuncheria Pathil, Teologi Gereja Lokal. Dalam Seri Verbum Kirbat Baru Bagi Anggur Baru. Maumere: Penerbit Nusa Indah, 2000.

Stephen B. Bevans, Model-model Teologi Konstekstual. Maumere: Penerbit Ledalero, 2002.

https://kristenisasi.wordpress.com, diakses pada 02 Mei 2012.

Dalam sharing pengalaman bersama umat di stasi Baok Krenget, Paroki Halihebing Maumere, Desember 2013.




            [1]Franz Magniz-Suseno, Beriman Dalam Masyarakat: Butir-butir Teologi Kontekstual, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1992),  p.113-114.
        [2]Kamus Oxford English Dictionary, 2001.
        [3]John Mansford Prior, Dari Pemenggalan Kepala Menuju Kembalinya Si Anak Hilang: Misi Dalam Perjumpaan Dengan Agama-agama Asli. Dalam Majalah Sawi, Edisi 10 Oktober 1995 (Jakarta: Komisi Karya Misioner KWI dan Missio, 1995), p. 46.
        [4]Kuliah Teologi Kontekstual.
        [5]Mantovani, Enio, SVD, Memahami Dialog. Dalam. Teologi Misi di Kawasan Asia Pasifik, (Maumere: Penerbit Nusa Indah), p. 139.
        [6]Stephen B. Bevans, Model-model Teologi Konstekstual, (Maumere: Penerbit Ledalero, 2002), pp. 221-222
[7]Ibid., p. 223.
[8]John Mansford Prior., Loc.cit.
[9]Emanuel Gerrit Singgih, Berteologi Dalam Konteks:Pemikiran-pemikiran Mengenai Kontekstualisasi Teologi di Indonesia (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2000), pp. 45-46
[10]Kuncheria Pathil, Teologi Gereja Lokal. Dalam Seri Verbum Kirbat Baru Bagi Anggur Baru, (Maumere: Penerbit Nusa Indah, 2000), p. 141.
[11]John M. Prior, Antara Monarki dan Demokrasi: Melacak Jejak Laku Hirarki Gereja 40 Tahun Terakhir. Dalam buku. Paul Budi Kleden, cs (Ed.), Allah Menggugat Allah Menyembuhkan (Maumere: STFK Ledalero, 2012), p. 107.
[12]Ibid., p. 110.
[13]https://kristenisasi.wordpress.com, diakses pada 02 Mei 2012.
[14]Dalam sharing pengalaman bersama umat di stasi Baok Krenget, Paroki Halihebing Maumere, Desember 2013.

TINAN 41TH RESTORASAUN INDEPENDENSIA TIMOR LESTE: REFLESAUN HAMUTUK HODI HARÉ BA FUTURU


TINAN 41TH RESTORASAUN INDEPENDENSIA TIMOR LESTE:
REFLESAUN HAMUTUK HODI HARÉ BA FUTURU


Independénsia nebé Timor Leste bele goza no hetan ita bele dehan nunka mais haketak-an husi istória naruk nebé mak falun-metin pasazem luta ba libertasaun rai doben ida ne’e. Ne’e dunik, ita keta haluhan ba istória nasaun ida ne’e nian. Hanesan ema hatetenIdade mak tempu, tempu mak akontesementu no akontesementu mak istória nebé mak formadu husi trajedia-trajedia”. Ida ne’e mak provérbio badak nebé mak ita bele dehan iha ninia sentido tebes hodi relembra fila fali akontesementu istóriku nebé mak akontese iha tinan 41 liu ba. Iha Istória oi-oin nebé mak ita bele dehan forma nasaun ida ne’e no lori nasaun ida ne’e ba iha libertasaun, indepensia nebé nakonu ho sofrementu no nakukun nebé falun metin luta husi as’swain sira nebé dedika sira-án tomak hodi tane dignidade rai doben ida ne’e.
Tinan ida ne’e ita tama ona ba istória Proklamasaun independesia ba dala 41, tempo nebé naruk tebes ba ita hot-hotu atu to’o ona saida mak sai vizaun ba luta ukun rasik-án nebé Timor oan hetan. Esperensia nebé nakonu ho sofremento no nakukun sai ona sasukat ida mai ita hotu atu tetu didiak futuru rai doben ida ne’e. Tempu to ona mai ita, atu bele hetan saida mak sai ita nia mehi no vizaun atu lori prosperidade ba ema hot-hotu iha rai doben ida ne’e no mos saida mak sai mehi husi ita nia herois sira nebé mak fakar sira nia ran hodi sosa liberdade ba povu rai Timor Leste nebé oras ne’e dadaun ita hotu hetan no goza.
Maibe ironia tebes, ita nebé sai testamunha husi luta ba libertasaun ukun rasik-án rai ida ne’e mos komesa tama iha situasaun HALUHAN istória. Ita haluhan dadaun ona saida mak sai vizaun fundador nasaun ida ne’e nian, nebé uluk dedika sira nia-án hodi mate ba libertasaun nasaun ida ne’e. Realidade nebé akontese mak ita halo aktividade bar-barak no fakar osan governu nian rihun ba rihun hodi selebra memoriam pasazem luta husi fundador sira nasaun ida ne’e deit, maibe dalawain liu ita haluhan saida mak sai responsabilidade no obrigatório ita nian nebé mak sei moris no goza hela liberdade nasaun ida ne’e. Haluhan mos sai razaun ida mai ita, atu ita bele halibur mai ita-án saida mak sai interese pessoal, hodi dalawain liu haluhan tiha saida mak sai prioridade komum husi ema barak iha nasaun ida ne’e. Ita tau tiha prinsípio bem komum iha kotuk no ita tane ás interese pessoal iha ita nia vizaun no responsabilidade sira. Iha eventu-eventu nasional sira nebé dalabarak nasaun ida nee festeza, ita proklama ba povu tomak prinsipiu bem komum nian, maibé vizaun bem komum hetan fatin iha menuto badak deit depois iha tempo barak ita fo oportunidade ba interese pessoal ba ita nia hakarak no desejo sira.
Dalabarak ona mak ita festeza no selebra selebrasaun istóriku bo-bo’ot sira nebé mak fo valor positivu tebes ba luta ukun rasik-án rai doben ida ne’e nian, maibé ita sempre haluhan saida mak sai vizaun prinsipal ba luta sira nebé mak agora ita relembra deit ona liu husi festeza sira nebé ita selebra loron balun deit. Ita sempre rona iha seminário, protokolu no palestral sira nebé mak lideransa sira halo sira sempre uza istória atu bele manan audiensia sira nia sentimento (fuan) maibé to deit iha neba, konkretizasaun nebé pratiku liu mak dalawain iha prátika ema barak (lideransa sira) fo liu importansia ba interese no desejo pessoal deit ba sira nia-an; pasazem istóriku sai deit bumbu nebé atu hamidar ita nia intensaun privado sira. Realidade hatudu katak proklamasaun indepensia tama ona tinan 41 no restaurasaun independensia RDTL to ona tinan 14, maibe realidade politika nebé akontese dadaun seidauk bele responde ejizensia husi istória luta ba libertasaun nasaun ida ne’e nian.
Bazeia ba realidade polítika iha nasaun ida ne’e, mosu krítika oi-oin ba dezemvolvimentu fiziku no umanu nian. Maibe dala wain mos krítika sira nebé iha sem hetan responde nebé konkrita. Haré fila fali ba kotuk hodi halo reflesaun ba lalaok polítika no dezemvolvimentu iha nasaun ida ne’e, iha buat barak mak sai dezafiu no problema nebé mak sai nafatin servisu (TPC) ba lideransa polítika nasaun ida ne’e tó mai ohin loron. Haré ba kuantitativa husi problema sira nebé mak mosu hanesan, korupsaun, intransparansia, nepotismu no abuzu polítiku sira nebé mak fo kor nakukun ba lalaok  nasaun ida ne’e hamosu sentimentu-sentimentu negativu hanesan pessimismu, skeptismu, lakon konfiansa no lakon esperansa ba lalaok lideransa sira nebé mak lidera hela nasaun ida ne’e.  Vizaun no mehi husi heroi sira nebé luta ba ukun rasik-an sai deit utópia nebé mak nunka konkretiza iha nasaun ida ne’e.
Idealismu atu harí nasaun nebé dezemvolvidu no prosperidade nafatin sai idealismu hela deit. Ita sempre haré realidade hatudu hela mai ita katak, mukit, kiak no dezempregu sira sei hetan númeru nebé ás tebes iha nasaun ida ne’e. Mosu sentimentu tristesa husi povu aileba no mukit sira katak luta ba independensia ida ne’e iha deit ema uitoan (lideransa no politikus) sira mak goza. Povu kiak no mukit nafatin moris iha situasaun hamlaha no defisil nia laran, povu sira husi areia rural sira halerik ba bebeik maibé laiha ema ida rona sira lian, sira lian no halerik hanesan anin nebé hú ba mai liu deit nune’e . Tó bainhira los mak ema hot-hotu bele goza no sente liberdade nebé mak ita sosa ho ran heróis no martires sira nasaun doben ida ne’e? Prosperidade sai nafatin perguntas nebé mak la hetan nia resposta iha rai no nasaun ida ne’e.
Istória proklamasaun ukun rasik-an rai ida ne’e tama ona ba tinan 41th, ita bele dehan katak prosesu luta nebé naruk tebes atu lori rai doben ida ne’e ba iha ukun rasik-an. Ita haré fali prosesu dezemvolvimentu no demokratizasaun nebé lao no implementa iha nasaun ida ne’e bele dehan lao husi etapa ba etapa nebé komesa hatudu-an ba mundo internasionais katak ita nazaun ida nebé demokratiku dunik, maibe wainhira ita akompaña didiak dinamika polítika nebé lao hela seidauk bele garantia no fo responde ba ezijensia prinsipal husi povu nasaun ida ne’e. Ezijensia atu hari nasaun no povu nebé dezemvolvidu no prosperidade seidauk hetan ninia konkritezasaun nebé riil. Númeru dezempregu, kiak sira no povu aileba sei nakonu hela iha cidade laran. Situasaun ida ne’e atu hatudu katak seidauk iha balansu nebé signifikante tebes iha nasaun ida ne’e.
Ne’e dunik, iha pasazem nebé naruk iha luta ba liberdade nasaun ida ne’e, ema hot-hotu ho espera katak tempo to ona atu povu Timor Leste bele sente sira nia liberdade liu husi goza no moris hakmatek iha nasaun ida ne’e. Esperensia no vizaun husi as’swain sira nebé fakar sira ran hodi sosa liberdade ba nasaun ida ne’e nian tenki sai inspirasaun no matadalan ida mai ita sira nebé mak oras ne’e dadaun sei kontinua hela lori nasaun ida ne’e ba mehi nebé sai visaun ema hot-hotu nian. Espiritu luta no tane ás dignidade husi herois sira tenki sai espirito ida nebé lori nafatin ita li-liu lideransa polítika nasaun sira atu bele diriji no ukun nasaun ida ne’e ho fuan nebé mos no ho fuan gratidaun atu ema hot-hotu bele goza liberdade demokatika nasaun ida ne’e.
Parabens ba aniversario ba dala 41th Proklamasaun Independensia Repúblika Demokratika Timor Leste


---o0o---






JOVEM TIMOR LOROSA’E IHA TEMPU MODERNISMU NIA LARAN


JOVEM TIMOR LOROSA’E IHA TEMPU
MODERNISMU NIA LARAN



Wainhira ita fo tempu uitoan hodi halo reflesaun ba mundu ida ne'e, ita hasoru buat barak mak transforma no mudansa tiha ona. Transformasaun nebe mak iha laos deit iha parte dezemvolvimentu fisiko deit, maibe refere mos ba iha dezemvolvimentu no transformasaun umano nian. Katak, iha mundu ida ne'e nia lalaok ita hasoru iha mudansa dinamismu nebe mak atrasa mos ho mundu ida ne'e nian lalaok. Transformasaun ida ne'e akontese kuase iha fatin no areia hot-hotu, katak liu husi modernismu fo imfluensia nebe forte tebes ba rai hot-hotu atu transforma no dezemvolve a'an ba faze nebe diak liu no modernu liu, tuir ejizensia moris ema no mundu nian.
Ho razaun ida ne’e, bele deklara katak mundu agora tama iha era nebe mak modernu, impaktu husi modernismo ida ne’e mos, Timor Leste hasoru. Katak iha mundu ne’e nia lalaok iha ritmo nebe mak dinamismu. Realidade no impaktu husi dinamismu mundial ida ne’e ema hot-hotu, li-liu jovem Timor Leste hasoru, katak realidade modernismu nunka mais bele haketak a’an ho involvementu no partisipasaun husi jovem sira. Katak jovem sira mos tama iha areia dezemvolvimentu modernismu mundu ida ne’e. Atu deklara katak iha lalaok modernismu ida ne’e iha mos aspeitu barak nebe mak persiza fo atensaun katak bele sai ameasa ida nebe mak fo impaktu negativu, no iha parte seluk fo impaktu positivu nebe mak bele transforma ema ba iha dezemvolvimentu nebe mak diak no iha valor benefisiu ba ema hotu, li-liu ba jovem sira, espesial jovemtude Timor nebe mak komesa tama iha faze modernismu no transformasaun li-liu iha areia edukasaun, teknologia, siensia, life style no sel-seluk tan nebe mak hetan influensia husi modernismu no globalizasaun.
Jovem iha tempu modernu iha mudansa nebe signifikante tebes, mudanza ida ne’e bazeia mos ba realidade nebe mak tama ona ba tempu modernismu nia laran. Mentalidade ema nia mos transforma tuir ejizensia husi lalaok mundu ne’e nian nebe mak iha mudanza makas tebes. Transformasaun ida ne’e akonteze radikal tebes tamba mentalidade tradisional nian nebe mak uluk sei iha influensia makas ba moris tradisaun nian agora lakon dadaun ona tamba tama ba realidade modernismu nebe mak fo mos impakto ba mentalidade no konseptu moris ema nian li-liu ba moris jovem sira iha tempu agora. Konseptu hanesan vida familiar, kustume no volor tradisaun nebe mak kesi metin lalaok jovem sira komesa lakon dadaun ona tamba situasaun urbanizasaun no industrializasaun nebe mak impakto husi modernismu nebe mak lao lalais tebes iha tempu seculo ida agora, nebe mak forte tebes ninia impaktu ba jovem sira nia hanoin. Transformasaun ida ne’e mos hetan influensa husi revolusaun media nebe mak fo liberdade ba moris nebe mak livre tuir modelo lalaok mundo nian, li-liu iha parte moris no kna’ar lor-loron nian. Ho ida ne’e ita bele dehan katak, moris iha tempu modernismu nia laran muda mos mentalidade no konseptu moris husi ema sira, espesial ba jovem sira nian lalaok moris.
Iha konsepto oi-oin nebe mak refere ba jovem (adolosentes) sira, maibe buat nebe mak ita la bele nega mak katak, realidade transformasaun mundial iha aspeitu teknologia no sciensia nebe makas iha sekulo ohin fo mos impaktu nebe signifikantes tebes ba mentalidade no karakteristika husi foin sa’e (adolosentes) sira nia moris. Liu husi dezemvolvimentu iha areia teknologia, siensia no industria nebe mak lalais iha neba mos iha mudansa ba mentalidade, hanoin no ezijensia moris husi ema ida-idak nian. Ne’e dunik, wainhira laiha kontroladu nebe klean husi sosiedade no familia konaba lalaok jovem sira, jovem sei tama ba ransu ou moris nebe livre entre sira ho sira. Ida ne’e sei fo ameasa nebe peregu tebes ba jovem sira nia futuru.
Iha sociedade ou realidade kontekstu Timor Leste nian, ita sempre rona ou hasoru direitamente konaba jovem sira nia moris nebe sempre nakonu ho dezafiu (challenges). Wainhira laiha kontroladu nebe diak husi sociedade ou familia dalabarak jovem lakon nia konsensia atu bele hatur a’an iha pozisaun nebe bele fo benefisiu nebe positivu ba nia moris. Nune’e, iha tempu modernismu nia laran jovem ou li-liu foin sa’e sira tenki hametin sira nia án ho reflesaun no uza konsensia atu bele defini no hatur án didiak iha realidade moris nia laran. Tamba, problema nebe ita sempre hetan iha jovem sira nia moris mak moris livre, ransu (badiu), droga, sexu livre no moris nebe la kese metin ho regra no norma nebe mak forte. No wainhira jovem sira tama iha situasaun nebe la kontroladu husi ema seluk mak jovem sei moris iha liberdade nebe sei fo ameasa ba nia futuru rasik.
Wainhira koalia konaba modernismu, sempre lori impakto positivu nebe mak fo benefisiu ba ema nia moris, maibe dalabarak mos modernizasaun nebe iha lori mos impaktu nebe negativu wainhira ema, li-liu jovem sira nia mentalidade (kapasidade) laiha preparasaun nebe forte, katak laiha konesemento nebe klean iha sira a’an atu bele asesu tama iha era-modernismu nia laran, jovem sei tama iha lasu modernizasaun nebe mak sei lori foin sa’e (jovem) sira ba dalan negativu nebe peregu tebes ba sira nia vida moris. Dala barak ita hasoru iha ita nia realide nasaun ida ne’e katak, jovem barak mak gasta tempo no opurtunidade ho festa, ransu, droga, moris livre no moris ho goza deit. Jovem barak la utiliza tempu ho diak hodi aprende, estuda no dezemvolve a’an iha aspeito barak nebe bele fo bantazem positivu nebe mak diak ba sira nia futuru. Ita mos hasoru jovem barak lakon sira nia opurtunidade atu suksesu iha aspeitu oi-oin tamba la utiliza ho diak tempo nebe sira iha.
Wainhira ita lao iha cidade Dili nia laran, fatin hira mak sai fatin ba turismu, rekreu no paseu sempre nakonu ho jovem, jovem barak mak gastu tempu ho paseiu, badiu, lao halimar no hakarak santai deit. Iha termu nebe ás liu katak jovem iha tempu modernismu ne’e tama iha konsepto hedonismu, konsumerismu no materialismu. Katak, iha mudansa mentalidade nebe makas entre jovem iha tempu agora. “time is money to be Success ” la tama iha konsepto jovem sira. Ita bele hasoru katak, iha jovem uitoan deit mak utiliza sira nia opurtunidade hodi fo importansia ba sira nia paisazem moris iha futuru nian liu husi aprendizazem, kursu, estudu no aprende rasik ba a’an.
Iha opurtunidade barak mak lakon saugati deit iha jovem sira nebe mak moris la ho komitmentu no prinsipiu nebe forte. Programa barak mak eskola, universidade no instituisaun siensia nian tantu mos opurtunidade barak mak governu (Estadu) harí maibe ita haré iha neba jovem uitoan deit mak hola parte atu bele hetan benefisiu ruma ba sira nia matenek no kapasidade, katak aprendizazem nebe mak diak dala barak jovem sira la fo importasia. Ema barak hili liu dalan nebe bele fo gostu ba sira nia moris; foin sa’e barak mak gasta tempu barak liu ba ransu, passaeiu no santai deit. Iha tempu modernismu ne’e mos ita sempre hasoru katak liafuan sakrifisiu komesa lakon ou menus iha konseptu no hanoin foin sa’e sira, “mental instan” komesa domina jovem sira nia moris. Hakarak moris santai, livre no hetan gostu ba sira nia hakarak deit. Realidade ida ne’e akontese iha estudante sira, nebe mak dalarak la haka’as sira án ho estuda no aprende mesak atu aumenta kapasidade pessoal. Realidade ida ne’e mak akontese iha fatin barak, tamba teknologia no media komunikasaun nebe mak iha fo opurtunidade nebe fasil liu ba jovem sira atu asesu informasaun ne’e dunik estuda no sakrifisiu liu husi le’e no exersiziu pratikamente nebe persiza tempo la dun iha ona interese iha konseptu jovem sira.
Modernismu nebe akompanha mos ho globalizasaun iha aspeitu siensia no tekhnologia lori mos impakto ba transformasaun hanoin ba foin sa’e sira. Liu husi dezemvolvimentu nebe lalais tebes iha aspeitu no koseptu moris modernu ida ne’e iha mos transformasaun no mudansa nebe signifikante tebes ba ema nia hanoin. Dezemvolvimentu no globalizasaun nia lalaok positivu no fo benefisiu nebe barak tebes, maibe wainhira ema (li-liu jovem sira) kuandu la sukat nia pasu hodi tama iha modernizasaun nia laran, ema sei lakon nia konsensia hodi tuir gostu no hakarak nebe bele fo ameasa ba ema ida-idak nia komitmentu no moris. Ne’e dunik, saida mka sai reflesaun ba foin sa’e sira mak, oinsa ema ida-idak bele valoreza no uza konsensia rasik atu bele defini dalan moris nian. Hodi nune’e opurtunidade diak ba futuru la lakon nune’e deit. Nudar jovem tenki iha espiritu nebe maka’as, esperansa nebe forte no komitmentu nebe metin atu nunee iha globalizasaun no modernizasaun nia laran bele hili no tuir dalan nebe bele fo benefisiu iha futuro. Jovem mak ai hun nasaun, jovem mak dalan dezemvolvimentu nasaun ida ne’e nian.



******



LEI PENSAUN VITALISIA VERSUS PRINSÍPIU POLÍTIKA BEM COMMUM


LEI PENSAUN VITALISIA VERSUS PRINSÍPIU POLÍTIKA BEM COMMUM



Wainhira ita asiste notisias sira nebé mak públika iha m­édia sira, hanesan iha journal diária sira iha Timor Leste, dala barak foka liu ba debate sira konaba alterasaun ba Lei Pensaun Vitalisia. LPV nebé hamoru husi meza Parlementu Nasional RDTL sai nafatin tópiku nebé hamosu ideias pro no kontra. Iha ema barak mak hakarak LPV tenki hetan lalais ona promulgasaun husi Presidente da Repúblika RDTL, maibé iha parte seluk mós ema barak bele dehan maiória mak kontra promulgasaun ba alterasaun LPV. Mosu perguntas, tamba saida mak iha pro no kontra ba LPV? LPV iha problemas? Iha injustisa iha LPV? Ida ne’e sei nafatin iha diskusaun no debate nebé naruk tebes entré lideransa polítika sira iha nasaun ida ne’e durante lei ida ne’e mosu iha meza uma fukun Parlementu Nasional RDTL.
Iha konseptu lei nian, lei nebé sai husi meza perlementu nasaun ida nunka mais viola ema nia direitu maibé sempré defende direitu ema hot-hotu nian. Iha sistema polítika nasaun nian, lei ou normas sira nebé mak governu hasai liu husi parlamentu ida sempre bazeia ba necessidade no prinsípiu bem komum nasaun ida nian, ne’e dunik lei ou normas sira nebé mak mosu husi mesa parlementu nasaun ida sempre bazeia ba necessidade ema hot-hotu. Wainhira ita haré fila fali ba realidade lei sira nebé mak altera ona iha parlamentu nasional iha Timor Leste, iha lei barak mak sei abandona hela iha meza parlamentu. Maibe úniku uitóan so lei ida deit mak sai kestaun nebé mak to agora sei sai pro no kontra ba promulgasaun lei ne’e nian, tantu mós hetan ona veta ba dalarua husi Presidente Repúblika Taur Matan Ruak. Membru maiória parlementu sira ejizi atu hetan promugasaun lalais maibe lei ne’e sei veta hela husi Presidenti Repúblika, tamba ho razaun oi-oin nebé mak ita bele dehan lójika dunik kuandu ita haré husi prinsípiu óptiku urjenidade husi necessidade lei ne’e nian.
Haré fali ba kontiudu husi Lei Pensaun Vitalisia sira nebé mosu iha ninia artigu sira, ita bele dehan katak, lei ida ne’e bele sai armazem (lumbung, gudang) ba eis titulares no eis membru parlementu sira. Lei ida ne’e hamosu husi inisiativa atu hariku no bele dehan sai previleizu bo’ot ba eis titulares sira. Iha hanoin barak mosu katak LPV atu fo dignidade ba eis priméiro membru governu (eis membru titulares) nebe mak maiória mesak veteranus deit no eis membru assembleia konstituite sira. Tamba ida ne’e iha kontiudu LPV ida ne’e bele dehan sai dalan nebé diak ba ema hot-hotu atu halo kompete hodi hadau malu atu bele hetan pozisaun iha Parlementu Nasional. Realidade ida ne’e mós ita bele dehan, sai dalan ida ba ema atu harí partidu hanesan harí loza iha cidade laran. Bele dehan katak wainhira LPV ne’e promulga ona husi Presidente Republika sei fo benefisu lubuk ba eis membru parlamentu no família tomak. Tamba sira la persiza servisu, la persiza fera kakutak ona tamba fulan-fulan sira simu pensaun vitalisia husi estadu; sira ho família tomak bele goza salariu estadu nian ho gratuita.
Mesmu iha revisaun ba LPV ne’e, maibé ita bele dehan katak, revisaun nebé iha la halakon nia benefisisu ba eis membru parlementu sira. Ne’e dunik, hamosu aksaun kontra no protesta barak husi sociedade civíl, estudante universitário sira, instituisaun no husi intelektual balu nebé fo dunik interese ba dezemvolvimentu ba nasaun ida ne’e, nebé hakarak halakon no hamós tiha LPV iha meza Parlementu RDTL nian. Presidente Repúblika Taur Matan Ruak rasik mós ho konsiente hateten katak LPV ne’e viola povu nia direito tamba nia benefisio ba membru eis titularis no membru parlementu sira nebé mak pensaun ona husi sira nia kargu núdar membru Parlementu Nasional iha nasaun ida ne’e. Tantu ida ne’e mós komande Jeral Major Lere Anan Timur no eis Presidente José Ramos Horta mos dehan katak LPV ne’e injustisa, tamba eis titulares no eis membru parlamentu sira deit mak goza estadu nia osan, maibé ita haré didiak ba experénsia passadu ema barak mak luta ba libertasaun nasaun ida ne’e. Kuando LPV ne’e aprova dunik husi Presidente Repúblika oinsa ho fungsionarius sira seluk, veteranus sira no sira nebé mak luta no fo án tomak ba libertasaun rai doben ida ne’e maibé depois de ida ne’e sira nia padareiro agora hanesan agrikultor no ema cívil bai-bain deit? Sira mós iha direito hanesan ho eis titulares no eis membru parlementu sira? Lójika konsiénte ita tau ita nia fuan iha nebé hodi fo onra ba sira nia luta.
Iha aspeito etika polítika nian mós ita bele dehan katak LPV hanesan korupsaun ida nebé lideransa sira halo ba sira a’an depois de sira nia mandatu remata. Ita bele dehan katak LPV hanesan dalan ba korupsaun nebé mak diak liu (jalan pintas) ba lideransa sira nebé mak ukun nasaun ida ne’e ba tinan 4 ou 5 deit depois sira bele hetan osan fulan-fulan ho gratuita husi governu. Liu husi LPV ida ne’e bele hadook sira husi aksaun korupsaun mesmo sira han osan povu nian nebé mak ita bele dehan uza hodi halao dezemvolvimentu ba nasaun ida ne’e bele hamenus mukit no kiak barak iha nasaun ida ne’e. Ita haré iha nasaun barak iha mundu mak fo pensaun ba membru governu tantu mos sira nebé tur iha Parlementu Nasional rai ida nian, sira simu salariu pensaun nian la bo’ot liu sira nia salario fulan-fulan, maibé iha ita nia nasaun ne’e “terbalik”, tamba depois sira nia kargu remata sira hetan subsidiu nebé mak bo’ot liu fali bahkan “berlipat-lipat ganda”. Ne’e dunik ho lójika ita bele dehan katak ho LPV ida ne’e sai ona dalan korta (jalan pintas) nebé mak lideransa sira (membru parlamentar) halo atu bele fo benefisiu ba sira nia án depois sira nia mandatu remata nudar membru governu iha uma fukun Parlementu Nasional nasaun doben ida ne’e. Ho razaun ida ne’e mak maiória povu sociedade cívil no intelektual barak hakarak rejeita total, hasai tiha LPV nebé mak la justu no kria injustisa iha nasaun ida ne’e.
Haré ba kontiudu husi LPV ne’e ita bele dehan ignorasia ou bele dehan mos irasional tamba lei ne’e la depende ba Konstituisaun RDTL nian, nebé mak dehan katak, liberdade rai ida ne’e ema hotu nian no ema hotu iha direito nebé hanesan atu goza ba ukun rasik án ida ne’e. Maibe LPV, haluhan tiha mandatu ida nebé hakerek nanis ona iha lei inan nasaun ida ne’e nian. Seolah-olah” LPV nebe hasai husi meza plenaria Parlemtentu Nasional nasaun ida ne’e nian mak “koko” atu kria injustisa. LPV nebé mosu agora iha públika, hamosu reaksaun nebé makas tebes husi sociedade civíl sira tamba hamosu pesimismo husi ema barak, tamba desizaun-desizaun polítika nebé mak mosu dalabarak fo deit benefisiu ba lideransa sira. Desizaun-desizaun iha parlamento konaba lei no normas ba nasaun ida ne’e dalabarak la depende ba necessidade povu nasaun ida ne’e maibé sempré fo valor posítivu deit ba membru parlementu sira. Ho situasaun ida ne’e ita bele dehan katak lei iha Timor seidauk responde ba prinsipio bonum commune husi maiória povu nasaun ida ne’e. Lei halo no aplika deit ba povu, mukit sira no ema ki’ik sira husi nasaun ida ne’e, maibé lideransa sira livre husi sansaun (kebal hukum) tamba dalabarak lei nebé mosu sempré depende lideransa sira nia aksaun polítika. Bele dehan lei iha Timor  ne’e “Tumpul ke atas dan tajam ke bawah”. Ezemplu mak ho LPV nebé mak sai debate iha públiku dau-daun, defende uluk direitu lideransa sira no direitu povu nian nebé mak bele dehan emerjensia teb-tebes tau tiha iha kotuk.
Wainhira LPV hetan ona promulgasaun ita la bele imagina saida mak atu akontese ba nasaun ida ne’e iha tinan 50 oin mai. Eis membru parlementu sira (eis titulares balun) hira husi periodu ba periodu mak simu pensaun vitalisia. Ema nainhira mak goza no ema nainhira mak mukit no kiak iha rai ida ne’e? Dezemvolvimentu hira mak bele lao ona iha rai ida ne’e kuando kada periodu membru parlementu sira okupadu deit ho maneira oi-oin oinsa atu hetan pensaun vitalisia depois de sira nia mandatu, lei barak mak sei abandona hela iha meza plenaria parlemento tamba membru parlemento sira hanoin deit mak oinsa hetan pensaun vitalisia depois de sira nia mandatu. Ho ida ne’e ida bele dehan dezemvolvimentu nasaun Timor Leste sei marka passo hela deit iha fatin no kuantidade kiak, mukit no povu aileba sira sei aumenta ba bebeik, graduasaun universitaria sira sei aumenta ba bebeik no númeru dezempregu iha rai ida ne’e sei ás ba bei-beik kada tinan. Ho ida ne’e ita bele dehan pensaun vitalisia injustisa no halakon demokrasia iha rai ida ne’e tamba iha realidade goza ba ukun án ida ne’e tó deit iha lideransa nasaun sira, mukit no kiak sira mantein nafatin iha sira nia pozisaun.
Ita haré ba prinsípiu etika polítika, polítika nia objetivu mak bem komum, atu to iha pasu ida ne’e polítika tenki responde ba necesidade komum, katak saida mak sai prinsipal iha nasaun ida li-liu iha aspeitu dezemvolvimentu no prosperidade ba povu nia moris. Hanesan lei inan Timor Leste nian kestiona katak libertasaun ba ukun rasik án, rai ida ne’e ema hot-hotu nian esforsu-án hamutuk, sakrifisiu nebé mak povu Timor oan tomak halo hodi luta ba ukun rasik án ida ne’e, au mesmo tempo mós depois ukun rasik án povu Timor oan hotu mós iha direitu nebé hanesan atu goza ukun rasik án nebé mak hetan ho ran no sakrifisiu ema hotu nian. Maibé realidade konseptu husi bem komum ida ne’e sai hanesan utópia ida deit nebé mak nunka realiza, tamba realidade polítika husi primeiru governu konstituisaun to mai iha sexto governu konstituisaun iha nasaun ida ne’e nebé mak goza ba ukun rasik án, ida ne’e iha ema uitoan deit. Iha ema barak mak sei halerik nafatin ba dezemvolvimentu nasaun ida ne’e. Povu aileba sira nafatin mantein iha sira nia pozisaun, kiak no mukit sira halerik nafatin no dezempregu iha rai laran mós kada tinan nia kuantidade aumenta ba bebeik. Oinsa atu responde ba perguntas hirak ne’e, seidauk tama iha ajenda lideransa nasaun ida ne’e, tamba lideransa barak mak sei esforsu án ho manéira oi-oin atu hariku família deit hodi haluhan tiha sira nia obrigatóriu no responsabilidade ba povu nasaun ida ne’e nia ezijensia.
Wainhira ita halo reflesaun hodi haré fila fali ba lalaok polítika no dezemvolvimentu husi ita nia nasaun doben ida ne’e desde inisiu ukun rasik án to mai ohin loron, iha problemas no konflitus oi-oin deit mak nabutuk hela deit nebé nunka hetan ninia solusaun tantu mós iha area dezemvolvimentu fíziku mós lao hakdasak hela deit. Atu dehan ho lojikamente katak, ita nia ukun rasik án nebé agora tama ba tinan 14 ona, seidauk bele responde ejizensia komum nia necessidade. Refléte ba realidade esperensia polítika iha tempu pasadu nian nebé nakonu ho sofrementu tenki sai ona reflesaun ida ba ita hotu oinsa atu fo interese ba dignidade rai doben ida ne’e iha nasaun internasionais sira oin.  Tendensaun polítika nebé sai ezijensia ba rai ida ne’e mak oinsa povu bele moris iha prosperidade no iha necessidade nebe bele sustenta sira nia moris, Tantu mós oinsa governu kría dezemvolvimentu hodi prepara kampu servisu, hodi nune’e bele hamenus mukit, kiak no dezempregu nebe kada tinan sei aumenta ba bebeik. Estadu tenki matan moris no neon nain hodi loke matan no haré grafitasaun no númeru populasaun nebé mak mukit hela, dezempregu nebé ho númeru ás, area rurais sira nebé defisil atu hetan asesu no tulun lalais, laos lor-loron mak debate no buka maneira oi-oin atu hetan benefisiu deit ba sira nia án, hanesan dadauk mosu LPV nebé mak sai obstaklu no halo konfuzaun ema barak nia hanoin.
Mesmo ita harí ona Komisaun Anti korupsaun (CAC) iha Timor Leste atu kombate hahalok malpolítika iha rai ida ne’e husi aksaun korupsaun maibé korupsaun sempré mosu ho ilãs foun iha lideransa sira “korupsi terselubung”, liu husi maneiras oi-oin nebé mak mamar (halus) liu. Ne’e dunik ita haré ba kontiudu husi LPV ne’e ita bele dehan katak “korupsi terselubung“ moris buras nafatin iha Timor Leste. Ho razaun saida? Tamba membru governu sira prepara án antes tiha ona ho lei ida nebé mak bele garantia sira depois sira nia mandato legistlativu iha parlementu nasional. Depois ramata sira nia kna’ar sira la persiza hikis kosar ben ona tamba sira bele goza nafatin saláriu husi governu nebé mak sai direito povu nian ba sira nia án. Eis membru parlamentu sira no eis titulares sira la persiza servisu no sira bele diskansa naruk iha uma deit tamba sira nafatin hetan subsídiu, uma gratuita, edifísiu servisu iha (atu halo saida ho edifisiu privadu?), kareta gratuita, viagem ba rai liur tuir hakarak ho gratuita, telemovel gratuita tantu mós simu saláriu pensaun vitalisia kada fulan.
Mosu protesta no krítika oi-oin nebé mai husi sociedade civíl, intelektual akadémiku sira, universitáriu sira, institúto sira maibe atu responde ba kritíka no protesta nebé mosu laiha; lideransa sira metenek atu ”mengalihkan” polítika nebé iha ho maneira oi-oin. Mosu krítika nebé forte atu halakon no hamós tiha LPV ne’e maibé laiha resposta nebé klaru husi membru parlementu sira, mesmo iha realidade hetan veta tiha ona husi PR maibé deputadu sira ezizi nafatin atu halo ratifikasaun no foti ida ne’e sai kestaun bo’ot ida hodi atu lori PR ba tribunal ho razaun konseptu husi PR ne’e inkonstitusional tamba kontra direitu membru parlementu sira. Mosu pergunta oi-oin iha kakutak. Oinsa ho han osan pensaun vitalisia nebé ho nia montante bo’ot teb-tebes, ne’e inkonstitusional k lae? Simu saláriu pensaun vitalisia kada fulan ho montante nebe ás tebes, hela iha uma luxu, hetan kareta luxu, halo viagem gratuita ho família ba estranjeiru, telemovel gratuita, no sel-seluk tan ho gratuita ne’e inkonstitusional k lae? Husik hela povu mukit sira kiak nafatin, dezempregu aumenta kada tinan, dezemvolvimentu paradu no hakdasak iha fatin, konstrusaun ba nasaun ida ne’e abandona nafatin, direitu povu nia lakon tiha deit ho prezensa LPV, ne’e inkonstitusional k lae?
Demokratizasaun nebé implementa iha nasaun ida ne’e ita bele dehan sai deit simbolu ida ba nasaun. Tamba ita bele halo diskusaun no dialogu oi-oin konaba termu demokratizasaun maibé ne’e para deit iha konseptu nebé mak defisil teb-tebes atu realiza iha nasaun demokrátiku ida ne’e’. Termu demokratizasaun iha deit ba lideransa sira tamba sira koalia deit saida mak sai sira nia direitu maibé saida mak sai direito povu nian tuir lalaok prinsípiu polítika demokratizasaun nunka sai konkrétu iha nasaun ida ne’e. Povu sai deit instrumentu ida atu sai suksesor ba mehi ho hanoin husi lideransa sira nia ejizensia. Povu Timor sai deit instrumentu ida nebé mak lori ita nia lideransa sira hodi habokur sira nia án no família. Haré ba realidade ida ne’e ita bele dehan demokratizasaun rai doben ida ne’e sei marka passu deit iha fatin. Konseptu nasaun nebé dezemvolvidu no prospero sai deit utópia nebé mak nunka konkrétu iha Timor Leste. Tamba goza ba ukun rasik án nasaun ida ne’e to deit iha lideransa sira, povu nafatin mantein iha sira nia pozisaun nebé sai ailebador nafatin leba ai lor-loron iha lurón, nebé kiak nafatin kiak rabat rai, mukit nafatin terus iha sira nia susar sira. Haré ba realidade ida ne’e ita nia konsensia tanis no halerik no nafatin hakilar maibé laiha responde ida mak mosu. Bainhira los mak prosperidade no haksolok ba povu Timor ne’e bele realiza, sai nafatin perguntas bo’ot mai ita!

---oo0oo---

IGREJA NO POLITIKA: HARÍ RELASAUN DIALOGO PROFETISMO ENTRE IGREJA NO POLITIKA IHA TIMOR LESTE (Reflesaun ba 500-anos Misaun Katolika Tama iha Timor Leste)


IGREJA NO POLITIKA:
HARÍ RELASAUN DIALOGO PROFETISMO ENTRE IGREJA NO POLITIKA
IHA TIMOR LESTE
(Reflesaun ba 500-anos Misaun Katolika Tama iha Timor Leste)



Iha Tinan 2015, Igreja Katólika iha Timor Leste komemora tinan 500 missaun Igreja Katólika tama iha Timor Leste. Existensia Evangelizasaun iha Timor Leste iha tinan nebe naruk makás, katak iha hatan nebe diak konaba prezensa Missaun Katólika husi misionario malae sira nebe lori missaun lulik ida ne’e mai iha Timor. Mesmo, prosesu Evangelizasaun ne’e la fasil atu halao, maibe ho korazen no espirito nebe forte malae sira harí dunik misaun iha rai ida ne’e. Katak, misaun Evangelizasaun ne’e halao ho pasu nebe naruk, maibe iha responde positivu husi povu rai ida ne’e ba prezensa uma Kreda nian iha Timor Leste.
Iha lalaok misaun Igreja Katólika iha Timor, la ses án mos husi lalaok politika kolonialismu nian. Katak papel Igreja iha rai ida ne’e akompanha mos ho aktividade politika nebe malae kolonialismo sira halo iha rai doben ida ne’e. Iha ne’e ita bele haré katak, lalaok politika no Igreja iha momento kolonialismo lao iha paso ida deit. Aproveita ho kolonislismo malae nian ida ne’e Missaun Igreja halao mos ninia missaun evangelizasaun. Katak, iha momento neba relasaun entre politika no Igreja iha pasu nebe diak, iha kolaborasaun no servisu hamutuk nebe diak. Iha tempo nebe naruk, misaun Katólika habelar nia evangelizasaun iha rai Timor ida ne’e. No realidade nebe mak bele hetan, to ohin loron missaun Igreja halao nia kna’ar apostolado Evangelho iha fatin hot-hotu iha rai doben ida ne’e.
Tanto ida ne’e, iha selebrasaun tinan 500 missaun Igreja Katólika halao nia missaun Evangelizasaun mai iha rai doben ida ne’e atu hatudu ba mundo katak ho tinan nebe naruk tebes nasaun Timor Leste esforso án atu hatudu nia identidade nasionalismo ba mundo tomak katak iha paso nebe ás tebes povo Timor halao nia pregrinasaun nebe nakonu ho obstaklu no dezafiu oi-oin hodi hatudu nia identidade ba mundo katak Timor mos rai ida nebe iha direito atu hamrik no ukun nia án hanesan mos nasaun sira seluk iha mundo tomak. Iha tinan 400 malae kolonialismo Portuguesa sira ukun rai ida ne’e no iha tempo barak nia laran mosu mos revolta hasoru ukun kolonialismo sira nian nebe mak hatudu husi povo Timor rasik atu defende no foti ás identidade rai ida ne’e.
Depois de malae kolonialismo sira dada án husi Timor, povo Timor mos kontinua hasoru dezafiu nebe sofre tebes, hetan invazaun husi nasaun vizinhu Indonesia. Durante tinan 24 Timor tama iha momento nebe sofre no terus tamba aswain barak no Timor oan lubuk ida mak kontinua lakon nia vida hodi defende identidade rai ida ne’e, rezultadu ikus mak Timor hetan nia independensia liu husi konsulta popular nebe mak hatudu katak Timor oan hotu hakarak ukun rasik án. Mehi nebe naruk realiza dunik iha 30 de Augusto 1999, maibe atu hetan ukun rasik án ida ne’e, Timor oan barak mos lakon nia vida. No ohin loron Timor oan bele haksolok tamba terus no ran nebe naksulik tamba ukun rasik án bele realiza.
Iha pasadu, ita hotu haré no hatene katak papel Igreja Katólika no politika lao ho objetivo ida deit. Iha servisu no luta hamutuk entre parte rua ne’e mak Timor bele manan nia mehi atu ukun rasik án. Realidade kolaborasaun ida ne’e mak to ohin loron iha nia kontinuasaun, katak Igreja ho politika (nasaun) hakarak lao hamutuk hodi foti dignidade rai ida ne’e, li-liu iha aspeito dezemvolvimento iha aspeito oi-oin. Katak iha prosesu ba ukun rasik án nebe naruk partisipasaun Igreja nian ita nunka mais bele nega; Timor oan hotu hatene no orgolhu tebes tamba iha pasado iha kolaborasaun nebe diak tebes entre Igreja no politika, li-liu politika libertasaun hodi defende dignidade no ukun rasik án povo Timor. Baseia ba hanoin ida ne’e Timor oan tenki avansa ba oin hodi dezemvolve no hamoris rai doben ida ne’e atu nune’e Timor oan hot-hotu bele senti resultadu nebe positivo husi ukun rasik án nebe sosa ho ran herois no martir sira nebe fakar sira ran hodi defende rai santo ida ne’e.
Haré ba realidade moris pasadu nian entre politika no lalaok uma Kreda Katólika katak iha kolaborasaun no tulun malu nebe forte mak hodi lori rai doben ida ne’e ba ukun rasik án. Mesmo iha dutrina Igreja nian entre politika no uma Kreda buat rua nebe nunka mais bele halo ida deit. Ho razaun katak, Igreja fo atensaun liu ba apoio humanidade, moralidade no mos dignidade ema nian no iha parte seluk politika toma konta ba realidade sosiais no vida politika nian. Maibe haré objetivo final entre buat rua ne’e mak defende direito, dignidade no moris ema hot-hotu nian. Tanto prinsipu ida ne’e mak Igreja nunka mais bele hases án ou hafahe án ho realidade politika ho nia razaun mak atu lori povu rai ida ne’e ba bem comum. Katak Igreja mos iha responsabilidade iha area politika, tamba realidade politika nudar aspeito ida nebe mak la hamrik mesak husi Igreja nian atensaun. Existensia uma kreda (Igreja) iha Timor hatudu katak lori impakto positivo ba lalaok politika iha nasaun ida ne’e. Ho razaun katak uma kreda mak ema Timor oan tomak, no objetivo politika mak ba ema Timor oan hotu nebe mak existe iha rai doben ida ne’e.
Lembra fali lalaok Evangelizasaun missaun uma kreda iha rai ida ne’e mak agora tama iha tinan 500, iha aspeto barak mak sai reflesaun ba Timor oan tomak, oinsa atu haré ba oin, saida mak ema Timor oan tenki halo ba rai ida ne’e hodi hatudu ba mundo katak exitensia missaun katólika iha rai ida ne’e hetan duni antusiasmo nebe ás tebes husi povo rai ida ne’e. Maibe haré realidade praktiko nebe akontese iha nasaun ida ne’e mosu pergunta bo’ot mai ita hotu katak saida mak ita halo ona ba rai ida ne’e, li-liu ba missaun uma kreda katólika iha Timor?
Nudar instituisaun religiaun ida, Igreja iha influensa nebe makás tebes ba lalaok politika iha nasaun ida ne’e. li-liu iha aspeito sosio-politika, realidade ida ne’e tamba disizaun politika nebe mak iha sempre konaba bem comum povo tomak nebe mak ho identidade katólika, katak desizaun politika nia objetivo ba ema hotu nebe mak existi iha rai ida ne’e. Existensia Igreja ba iha realidade sosio-politika hanesan instituisaun nebe mak toma konta iha aspeito moral politika iha kontesto povo Timor tomak. Tanto, haré ba lalaok povu Timor Leste iha nia luta ba libertasaun nasionalismo Igreja mos sempre partisipa iha luta ida ne’e, li-liu iha parte defende liberdade, dignidade no direito humanus povu Timor Leste husi persekusaun, intimidasaun, violensia, teror no ameasa nebe mak halakon dignidade no moris povu rai doben ida ne’e. Katak, iha prosesu libertasaun independensia nasaun Timor Leste Igreja mos hola parte iha prosesu ba ukun rasik án ida nebe realiza iha konsulta popular iha tinan 1999 liu ba.
Alende ida ne’e, iha selebrasaun ba tinan 500 missaun Evangelizasaun ida ne’e, núdar Timor oan ita mos fo apresia ba “emprendedor missionaria” nebe mak ho korazem no berani hahu sira nia misionaria evangelizasaun ba missaun Igreja katólika mai iha Timor. Ita haré iha memoria pasadu nebe povo Timor sira luta hodi to mai iha ukun rasik án, missaun Igreja ho povu Timor lao hamutuk hodi luta ba liberdade povo ida ne’e husi kolonialismo malae mutin sira no invazaun Indonesia nian, katak papel Igreja iha história Timor bo’ot ba prosesu libertasaun nasional rai ida ne’e, nebe Igreja hasoru durante prosesu konkretizasaun nasional ba to iha ukun rasik án nian. Apresiasaun ba misionaria sira nebe hahu sira nia missaun Igreja Katólika iha rai ida ne’e, Timor Leste hatudo liu husi valor no kuantidade povu Timor nebe maioria ho identidade Katólika.
Katak husi proseso kolonialismo no missaun Evangelizasaun iha rai Timor Leste iha tempo pasadu liu ba ita bele hatudo no nakloke ba mundo katak Timor mos nu’udar povo ida iha identidade mesak nebe uniko nebe ema seluk labele halakon. Tamba esperansa nasionalismo nebe forte iha Timor oan nia laran, iha movimento kolonialismo to mai iha invasaun husi Indonesia nian, Timor oan husi rai doben ida ne’e iha espirito nebe bo’ot tebes hakarak defende nia kultura no identidade rasik. Mesmo iha realidade katak iha tempo ukun kolonialismo mai to iha Indonesia nia tempo povu Timor hasoru dezafiu no dalan nakukun barak, sempre hasoru dezafiu, sofrementu no ameasa bo’ot husi rai liur, núdar Timor oan mosu espirito unidade nebe bo’ot tebes katak hakarak ou lahohi Timor tenki luta ba nia liberdade.
Iha tempo no luta nebe naruk tebes Timor ohin loron hetan nia independensia, no iha tinan 2015 ne’e Igreja no estadu Timor Leste bele komemora tinan 500 ba prezensa missaun Evangelizasaun tama mai iha Timor. Haré ba missaun Igreja nebe kuda iha rai ida ne’e ho tempo nebe naruk, ita persiza hateke kle’an liu tan ba realidade moris Igreja Timor tó ba ohin loron. Saida mak Timor oan sira hatudu no halo ona ba rai ida ne’e. Ita hateke fali ba kotuk, iha historia nakukun barak mak fo koor ba lalaok rai doben ida ne’e katak, iha problema, dezafiu no sofremento oi-oin mak rai ida ne’e hasoru. Mosu pregunta bo’ot mai ita, ho prezensa missaun Igreja Katólika nebe mak ohin loron tama ona ba tinan 500 saida mak Timor oan sira halo ona hodi tuba no harí fiar ba Igreja Katólika? Maibe, nudar nasaun ida nebe mak ho fiar ba Uma Kreda, ita sempre iha esperansa bo’ot katak loron ida Timor Leste sei iha jerasaun foun ne'ebe mak nakonu ho sentimento nasionalismu, hadomi Timor Leste no iha hanoin no vontade diak atu lori nasaun ba oin ho povu nebe mak moris diak, li-liu iha konsensia atu moris nudar sarani kristaun nebe diak tuir dutrina no lalaok fiar Katolika nian.
Iha selebrasaun ba tinan 500 Evangelizasaun iha Timor Leste ida ne’e mos, atu lori ita hotu ba konsepto ida deit katak atu lori rai ida ne’e ba dezemvolvimento no bem comum nian mak ita tenki hametin no kaer metin prinsipiu tolu mak unidade, responsabilidade no amizade. Liu husi prinsipiu hirak ne’e ita bele ho hanoin ida deit mak lori paz no liberdade ba ema hotu iha rai doben ida ne’e. Atu realiza mehi ida ne’e Igreja no politika hametin korazem katak iha kolaborasaun nebe diak entre instituto rua ne’e mak Timor oan bele hamrík metin iha nia ukun rasik án ida ne’e. Katak, realidade ba ukun rasik án ne’e povu Timor hatudu liu husi dezemvolvimento nasional nebe ema hotu bele hetan, senti no bele goza ba ukun rasik án rai ida ne’e nian.



***


DEMOKRASI VERSUS KORUPSI: MENEROPONG FENOMENA KORUPSI DARI SUDUT PANDANG MORAL POLITIK


DEMOKRASI VERSUS KORUPSI:
MENEROPONG FENOMENA KORUPSI DARI SUDUT PANDANG MORAL POLITIK


Carlito d’ Costa Araujo, OCarm
Alumni Pasca-Sarjana STFK Ledalero-Maumere. Tinggal di Dili - Hera




Lord Acton dalam sebuah wacana terkenalnya pernah mengatakan Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely. Kekuasan cenderung korup dan kekuasaan absolut (niscaya) korup secara absolut pula. Menegaskan bahwa kekuasaan sering memainkan peran manipulatif dan cenderung untuk menindas. Berbicara politik selalu berkaitan dengan kekuasaan. Dalam konsep Aristoteles, politik dipahami sebagai tatacara mengelola kota (negara) untuk kesejahteraan bersama seluruh warganya (polites). Bagi Aristoteles, politik merupakan seni mengelola kekuasaan dengan konstitusi (politeia) demi kepentingan umum. Sayangnya, terma politik yang suci tersebut kadang disalahterjemahkan oleh segelintir elitis dalam kancah politik dewasa ini. Politik lebih cenderung dialami sebagai cara-cara meraih kekuasaan dengan cara apapun dan menyala-gunakannya untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Ketika kekuasaan berada di tangan orang yang salah karena diraih melalui cara-cara yang salah, pastilah akan digunakan secara salah (abuse of power) pula. Maka politik akan kehilangan makna; dari politik kepentingan bersama menjadi politik kepentingan partial (kepentingan pribadi atau segelintir orang).
Menyimak berita dalam negeri beberapa pekan terakhir di beberapa media massa Timor Leste, korupsi menjadi trand topic yang dibahas, dipersoalkan dan diwacanakan terus-menerus di samping beberapa topik yang lagi “senter” dalam beberapa hari belakangan ini. Korupsi seakan-akan sudah menjamur di berbagai aspek kehidupan bahkan menjadi wacana publik yang tidak lagi asing di telinga masyarakat Timor Leste. Korupsi (bahasa latin: courruptio dari kata kerja corrumpere, yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Secara harafiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun siapa saja, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Fenomena politik demikianlah yang sering menghiasi panorama politik di negara yang mengusung demokrasi sebagai pilar politiknya.
Beragam aktus korupsi di Timor Leste sering dilakonkan dan tidak jarang pula beberapa orang elit politik yang sudah terjerat ke dalam tindakan korupsi. Meskipun demikian perilaku korupsi semakin menjadi-jadi. Sehingga muncul beragam interpretasi tentang korupsi. Korupsi bukan lagi suatu pelanggaran hukum, akan tetapi korupsi sudah sekedar menjadi suatu kebiasan, hal ini dikarenakan korupsi berkembang dan tumbuh subur terutama di kalangan para pejabat dan elit politik dari level tertinggi sampai ke tingkat yang paling rendah. Korupsi yang semakin subur dan seakan tak pernah ada habisnya, merupakan bukti nyata betapa bobroknya moralitas para pejabat publik di bumi Lorosa’e ini. Namun apakah korupsi hanya diakibatkan oleh persoalan moralitas belaka? Setidaknya terdapat beberapa asumsi yang menjadi dasar terjadinya perilaku korupsi, antara lain lemahnya kesadaran akan kepentingan kolektif, bobroknya mental para pejabat publik, mengabaikan kepentingan orang lain serta lemahnya kesadaran moral serta ketamakan dan kerakusan akan kekayaan (mental materialistik dan hedonistik) yang mengabaikan bonum commune.
Pada umumnya, korupsi adalah benalu sosial yang merusak struktur pemerintahan dan menjadi penghambat utama terhadap pemerintahan dan mematikan pembangunan negara. Selain itu, Korupsi merupakan bagian dari gejala sosial yang masuk dalam klasifikasi menyimpang (negatif), karena merupakan perilaku sosial yang merugikan individu lain dalam masyarakat, menghilangkan konsensus yang berdasar pada keadilan, kesejahteraan serta pembunuhan karakter terhadap individu itu sendiri. Tindakan korupsi ini merupakan produk dari sikap hidup satu kelompok masyarakat atau perorangan yang memakai uang sebagai jaminan kebenaran dan sebagai kekuasaaan mutlak. Sebagai akibatnya, kaum koruptor yang kaya raya dan para politisi korup yang berkelebihan uang bisa masuk ke dalam golongan elit yang berkuasa dan sangat dihormati bahkan jauh dari sentuhan hukum dan konstitusi. Mereka ini juga akan menduduki strata sosial yang tinggi di mata masyarakat dengan mengabaikan apa yang menjadi hak orang lain secara khusus mereka yang menjadi korban dari tindakan korupsi.
Jika kita menyimak perhelatan politik negara ini dalam beberapa periode terakhir, korupsi sangat tumbuh subur, bahkan menjadi ladang bagi para koruptor untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan dan harta benda. Aktus korupsi terjadi hampir di seluruh bidang kehidupan, bahkan korupsi sudah menjadi suatu yang lumrah bahkan dianggap sebagai suatu hal yang biasa bagi siapa saja yang mendapat peluang untuk memperkaya diri. Aktus korupsi yang semakin merebak di negara ini mengindikasikan bahwa prinsip-prinsip demokrasi belum mendapat tempat dalam perhelatan politik di negara ini. Dengan semakin maraknya parilaku korupsi maka secara otomatis pengabaian terhadap prinsip-prinsip demokratisasi yang dijadikan tonggak pemerintahan negara ini yakni transparansi, partisipasi dan akuntabilitas mengalami pengerdilan makna dan wajah demokrasi bangsa ini menjadi suram dan tak bermakna.
Jika kita menelisik korupsi dari optik moral politik maka, korupsi adalah suatu perilaku para elit politik yang mengabaikan kepentingan bersama (bonum commune). Korupsi adalah suatu tindakan mengambil (menghilangkan, mencuri dan merampas) apa yang menjadi hak-hak orang lain secara khusus orang kecil, miskin dan kaum lemah. Korupsi merupakan suatu tindakan amoral yang merusak integritas bangsa Timor Leste sebagai negara yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi dan menempatkan konstitusi sebagai hukum tertinggi bangsa ini. Jika aktus korupsi dibiarkan terus-menerus maka hukum yang menjadi pilar bangsa ini dinodai dan dinistai oleh para elitis bangsa ini yang memanfaatkan kebaikan negara demi kepentingan dirinya dengan memperkaya diri dan memiskinkan mereka yang kecil dan tak berdaya baik secara politis maupun secara hukum.
Sebagai bangsa bermartabat yang menjadikan demokrasi sebagai pilar bangsa ini maka, moralitas politik hendaknya dijadikan primat utama dalam membangun bangsa ini dari keterpurukan dan kemiskinan. Sebagai bangsa yang baru merdeka sudah semestinya perjuangan demi kepentingan bersama harus menjadi komitmen bersama, sehingga semua orang mendapat hak yang sama di depan konstitusi dan undang-undang. Jika prinsip-prinsip demokrasi diabaikan maka pengerdilan moralitas bangsa niscaya menjadi suatu yang mungkin, dengan demikian kebobrokan serta degradasi moral menjadi mungkin terjadi di berbagai aspek kehidupan bangsa ini. Dengan demikian pembangunan dan pemberdayaan demokrasi di bumi Lorosa’e ini akan terhambat bahkan terabaikan sebagai akibat dari pengabaian kepentingan bersama.
 Moralitas dalam ranah politik ditentukan oleh kesanggupannya untuk secara konsekuen mencari jalan yang terbaik untuk membawa masyarakat seluruhnya kepada sebuah kehidupan yang mencerminkan martabat luhur manusia. Kalau politik mencerminkan kesesuaian dengan cita-cita ini, maka politik dapat menjadikan etika politik sebagai kompas untuk memandu jalannya demokrasi di bumi Lorosa’e ini. Berkaitan dengan ini etika politik harus menempatkan dirinya sebagai pijakan dalam menempatkan kebijakan-kebijakan politik di bawah satu penilaian moral, khususnya kalau hal itu dituntut oleh penghormatan terhadap hak-hak asasi pribadi manusia atau demi kepentingan masyarakat. Di sini moralitas politik berperan memberikan penilaian moral terhadap pelaksanaan kebijakan-kebijakan politik.
Politik dalam dirinya mengandung nilai-nilai positif, sebagaimana prinsip fundamental dari politik itu yang mengarah kepada manusia sebagai subjek dan pelaku dari politik. Tujuan politik ialah kesejahteraan dan penataan hidup bersama dalam masyarakat. Maka yang menjadi tugas politik adalah menempatkan kekuasaan di bawah kontrol hukum dan dengan demikian menata pelaksanaannya secara terstruktur sehingga mekanisme dari praksis politik dapat dikontrol. Norma-norma hukum ini mutlak diperlukan sehingga tidak terjadi kesewenangan dan ketimpangan politik karena kepentingan-kepentingan partikular yang turut memainkan andil di dalam perhelatan politik.
Bukan suatu yang tabu lagi bahwa para politisi sering menggunakan arena politik sebagai sarana untuk memperjuangkan intensitas-intensitas pribadi maupun kelompok-kelompok tertentu dengan mengabaikan prinsip dasariah dari politik, yang memperjuangkan bonum commune. Karena itu, etika politik harus menjadi suatu norma sekaligus sebagai pemandu arah dan penentu kualitas pelaksanaan sistem politik demi terciptanya keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian maka, politik pertama-tama harus dipahami sebagai suatu pergerakan untuk membangun dan menciptakan tatanan hidup yang sejahtera, serta memperjuangkan masyarakat yang adil dan makmur. Perjuangan demi kesejahteraan bersama ini hanya akan tercapai jika kesadaran akan kepentingan bersama demi bonum commune telah tertanam dalam nurani setiap orang, maka dengan demikian perjuangan demi kepentingan partial dan kelompok dapat direduksi sehingga aktus korupsi dan malpolitik lainnya bisa diminimalisir bahkan diberantas.
Hannah Arendt, seorang filsuf keturunan Yahudi menegaskan bahwa politik merupakan ekspresi kebebasan yang termanifestasi melalui komunikasi di dalam ruang publik. Sehingga ketika ruang publik politik disalahartikan maka, politik akan berubah dari prinsip fundamentalnya menjadi politik pencarian profit dan kepentingan diri. Politik tidak lagi memperjuangkan kesejahteraan bersama melainkan kepentingan dan pemuasan para elit politik. Ruang publik politik dihipnotis menjadi lumbung untuk penumpukan harta benda, KKN, money politic, intrik-intrik politik kepentingan, politik manipulatif, dan beragam kesenjangan politik akan turut menghiasi panorama politik kepentingan tersebut. Politik deliberasi rasional dikikis menjadi politik kepentingan orang perorangan maupun kelompok, “demos politik” menjadi sunyi-senyap karena kemampuan rasionalitas kritis politik kehilangan daya taringnya ketika kepentingan dan pemuasan diri telah mendominasi realitas politik di bumi Lorosa’e ini.
Realitas kebobrokan politik yang nampak dalam aktus korupsi, politik uang dan beragam aktus malpolitik lainnya semakin marak berkembang dalam pentas politik karena moralitas politik tidak lagi mendapat perhatian dari para elit politik. Setiap orang berjuang demi memuaskan kepentingan-kepentingannya dan mengsubordinasikan kepentingan bersama, sehingga mereka yang apatis terhadap politik akan terus-menerus tergerus dan menjadi korban dari politik kepentingan kaum elit. Dan mereka yang “beruang” segala upaya dilakukan untuk mencapai apa yang menjadi target dan ambisi mereka dalam kancah politik. Maka, tepatlah apa yang menjadi kecemasan Thomas Hobbes bahwa manusia akan menjadi mangsa bagi yang lain (homo hamini lupus). Dengan kekuasaan orang dapat mengorbankan yang lain; mereka yang kecil dan tak berdaya di hadapan hukum dan konstitusi akan menjadi korban dari politik kepentingan yang dilakonkan oleh kaum elit dan para birokrat di negara ini.
Kekerasan politik telah menjadi realitas yang tidak pernah lepas dari panggung perpolitikan bangsa Timor Leste saat ini. Dimensi violatif politik ini tampak dalam kenyataan pembiaran secara serius kerusakan-kerusakan tatanan sosial, tindakan manipulatif, teror, pencemaran lingkungan hidup dan kejahatan-kejahatan lainnya yang secara masif dan terstruktur dilakonkan. Bentuk kekerasan politik yang paling fatal saat ini adalah aktus korupsi yang tak henti-hentinya menghiasi panorama politik di negara yang menjadikan demokrasi sebagai sistem dan wadah politiknya. Politik demokratisasi sering diterjemahkan secara salah oleh kaum berkepentingan dalam pentas politik. Politik seakan menjadi ruang pembenaran orang melakukan tindakan anarkis dan naif demi tujuan menghalalkan segala cara, dengan mengorbankan pihak yang lemah dan tak berdaya secara politis maupun secara hukum. Politik yang kelihatan suci, pada waktu yang sama bisa berubah menjadi politik kotor dan jahat ketika kepentingan pribadi (partikular) turut serta memainkan perannya.
Tidaklah salah jika dikatakan bahwa tiap kebijakan atau peraturan yang keluar dalam suatu negara, merupakan produk politik dari rezim yang sedang berkuasa. Di sinilah titik krusial dari politik itu. Sebab, subjektivitas tidaklah dengan sendirinya hilang, bahkan sering dapat mencuat manakala kekuasaan membesar pada seseorang atau sekelompok orang. Paling tidak, para penguasa akan mempengaruhi rumusan dan muatan dari suatu kebijakan publik atau peraturan yang keluar pada masa pemerintahannya. Hukum menjadi jinak dan kehilangan daya taringnya ketika kekuasaan dan jabatan dijadikan tameng untuk membentengi diri dan bebas dari hukum dan undang-undang. Pada tataran inilah moralitas politik memainkan perannya. Moralitas politik menjadi sangat penting dan urgent ketika politik dan kekuasaan politik serta kebijakan-kebijakan politik tidak lagi berjalan sesuai norma-norma politik yang ada sebagaimana politik dalam perspektif demokrasi di bumi Lorosa’e yang termanifestasi di dalam Konstitusi RDTL 2002.
Etika politik menjadi sangat penting dalam sebuah negara yang menjadikan demokrasi landasannya. Perang etika (moralitas)  politik menjadi sangat penting karena berbicara pada tataran nilai tentang negara dan proses-proses yang manusiawi di dalamnya. Moralitas politik menjadi tonggak pengambilan kebijakan-kebijakan politik serta membuka kesadaran akan pentingnya batas-batas etis menyangkut proses dan perilaku politik dalam suatu negara. Karena itu politik tidak bisa dibiarkan berjalan begitu saja, hanya sekadar diurus orang-orang tertentu atau diserahkan kepada para politisi semata karena jika demikian kekuasaan politik akan korup dan mendistorsi perjuangan demi kepentingan bersama yang di dalamnya turut membuka ruang untuk para koruptor memainkan perannya, yakni menguras dan mengambil apa yang menjadi hak orang lain.
aktus korupsi menjadi tantangan dalam membangun bangsa yang demokaratis ini. Jika korupsi tidak diberantas maka nahkoda bangsa ini akan diarahkan ke mana. Membawa Timor Leste ke arah pembangunan dan kesejahteraan atau sebaliknya? Jika korupsi tidak dikikis dan dipangkas maka praksis politik menjadi permainan kotor, tanpa moralitas dan etiket berpolitik yang sehat. Maka keindahan politik berubah menjadi bau amis yang menyengat dan keagungan kekuasaan menjelma menjadi medan yang menakutkan. Gelagat permainan politik para politisi yang korup akan menodai perjuangan bangsa ini menuju kemerdekaannya. Jika perilaku korupsi terus berkembang maka etika politik yang dibangun di negara demokrasi ini tidak lebih hanya sebuah ambisi untuk mendapatkan kursi kekuasaan tanpa sadar bahwa mereka dipilih oleh rakyat, untuk rakyat dan kepada rakyat. Tetapi, hal yang harus disadari adalah kebijakan publik politik  di dalam politik yang bersih dan jujur adalah  orientasi utama perjuangan bangsa ini menuju kemerdekaannya. Kepentingan dan kesejahteraan bersama menjadi jaminan kemerdekaan bangsa Timor Leste.

***


São Titus Brandsma. Martir Epoca Moderna nian.

 São Titus Brandsma. Martir Epoca Moderna nian.   São Titus Brandsma. Martir Epoca Moderna nian.   https://drive.google.com/file/d/1M4EVeXu...